Selasa, 15 April 2014

Naik Angkot Menguntungkan?

Suatu pagi seperti biasa aku menjalani hariku sebagai seorang mahasiswa ITB. Sebuah rutinitas yang biasa aku jalani seperti hari-hari sebelumnya, pergi dari kosan --> jalan ke tempat angkot --> naik angkot --> turun angkot --> jalan dikit ke kampus.

Namun pada hari Jum'at, 11 April 2014 sebuah pikiran terbesit di kepalaku.

"Hmm... selama ini aku naik angkot sekali jalan bayar 2000 rupiah, pulang pergi jadi 4000 rupiah. Seandainya aku punya motor dan aku bawa ke Bandung kira-kira mana yang lebih menguntungkan?"

Yup, sebuah pertanyaan muncul di pikiranku. Apakah naik angkot itu menguntungkan jika dibandingkan naik motor?
Berawal dari keisengan aku mulai mencari  berbagai data primer dan sekunder terkait pertanyaan ini. Mari berbicara dengan data. :)

Data Tarif Angkot Cisitu-Tegalega sekali jalan (Cisitu-ITB / ITB-Cisitu) : Rp 2.000
Data Harga Premium : Rp 7.000 / liter
Konsumsi Premium Supra X 125 pgm fi : 65,38 km / liter (sumber : http://apriantoblog.wordpress.com/2012/04/02/hasil-konsumsi-bbm-jenis-premium-pada-supra-x-125-pgm-fi/)
Jarak Cisitu-ITB : 2,6 km (sumber : googlemap. hehe. :D)
Ganti Oli Rutin : Rp 50.000 / 3 bulan (info dari teman pemakai motor)
Biaya Paket Motor : Rp 500.000
Biaya Parkir : Rp 1.000

Okay, data awal di atas dirasa sudah cukup (mudah-mudahan hehe) maka mari melakukan hitung-hitungan.

Angkot  :
Biaya angkot per hari : Rp 2.000 x 2 = Rp 4.000 (pulang pergi jadi 2 kali)
Biaya angkot per tahun : Rp 4.000 x 30 x 12 = Rp 1.440.000
Biaya angkot 4 tahun (selama kuliah) : Rp 1.440.000 x 4 = Rp 5.760.000

Motor :
Operasional = Biaya Premium + Biaya Servis + Biaya Parkir
Biaya premium per bulan = Rp 7.000 x 2 x 2,6 x 30 / 65.38 = Rp 16.702,36
Biaya premium per tahun = Rp 16.702,36 x 12 = Rp 200.428,27
Biaya servis per tahun = Rp 50.000 x 4 = Rp 200.000,00
Biaya parkir per tahun = Rp 1.000 x 30 x 12 = Rp 360.000
Operasional per tahun = Rp 200.428,27 + Rp 200.000,00 + Rp 360.000,00 = Rp 760.428,27
Operasional 4 tahun (selama kuliah) = Rp 760.428,27 x 4 = Rp 3.041.713,06
Total Biaya 4 tahun = Paket Motor + Operasional = Rp 500.000 + Rp 3.041.713,06 = Rp 3.541.713,06

Dari hasil di atas didapatkan selisih biaya selama 4 tahun :
Rp 5.760.000 - Rp 3.041.713,06 = Rp 2.218.286,94

Angka yang cukup menarik, dengan menggunakan motor yang aku punya di Bandung maka aku memiliki kesempatan untuk menghemat lebih dari 2 Juta pengeluaranku selama 4 tahun berkuliah di ITB.

Naik Angkot Menguntungkan? Bisa iya bisa tidak tapi seperti inilah faktanya. Ini hanya sebuah pikiran random dari seorang Wiku Larutama

Welcome to My World :)

Selasa, 25 Maret 2014

Manusia dan Mimpi

“Aku bermimpi untuk menjadi … .”
“Aku bermimpi kelak akan … .”
“Aku akan terus mengejar mimpiku untuk … .”

Apakah sebenarnya mimpi itu? Bagiku mimpi merupakan sebuah angan-angan. Dan hanya tetap menjadi angan-anagn ketika sang pemilik mimpi tidak berusaha mewujudkannya.
Banyak orang sering berbicara tentang mimpi, bahkan mimpi hampir menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari diri seorang manusia.

“Impian itu seperti sayap. Dia membawamu pergi ke berbagai tempat. Kurasa, mamamu sadar akan hal itu. Dia tahu, kalau dia mencegah mimpimu, itu sama aja dengan memotong sayap burung. Burung tersebut memang nggak akan lari, tapi burung tanpa sayap sudah bukan burung lagi. Dan manusia tanpa mimpi, sudah bukan manusia lagi.”
― Windhy Puspitadewi, Let Go

Bagiku mimpi itu sangat dekat, tapi terkadang kita lupa untuk mewujudkannya.

Setiap orang memiliki hak untuk bermimpi entah seperti apakah mimpi tersebut. Tidak ada kata besar ataupun kecil ketika kita berbicara tentang mimpi. Manusia itu unik begitu pula dengan mimpi-mimpinya. Tidak ada yang salah ketika kita sebagai manusia bermimpi. Tidak ada yang salah ketika aku bermimpi untuk mendapatkan nilai 80 ketika ujian. Tidak ada yang salah ketika aku bermimpi untuk bergerak untuk membangun Indonesia. Tidak ada yang salah juga ketika aku bermimpi agar kelak menemukan pendamping hidup yang baik. (Sah-sah saja kan hehe)

Kita bisa bermimpi tapi terkadang kita lupa untuk mewujudkannya. Sejujurnya hal itu pula yang sering aku alami selama aku hidup. Beberapa kali aku bermimpi dan beberapa kali pula aku lupa untuk mewujudkannya. Mudah-mudahan sih lupa yang tidak disengaja bukan lupa karena sengaja dilupakan. Sebenarnya apakah yang menyebabkan mimpi itu lupa untuk diwujudkan? Dari yang selama ini aku rasakan, faktor utama yang menyebabkan mimpi itu lupa untuk diwujudkan adalah karena tidak adanya strategi dalam mencapai hal tersebut dan memang tidak ada niat untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Dengan tidak adanya strategi untuk mencapai mimpi tersebut maka akan terjadi sebuah kebingungan untuk menjawab pertanyaan “Sudah di tahap mana sih pencapaian mimpiku?”. Kita tidak bisa mengecek apakah ada kemajuan atau bahkan kemunduran ketika kita tidak melakukan perancangan strategi untuk mencapai mimpi. Hanya mengalir tanpa arah yang jelas dan ketika tersadar ternyata sudah terlambat. Jadi, strategi itu penting untuk mewujudkan mimpi.

Berbicara tentang niat untuk mewujudkan mimpi mari kita awali dengan mencoba menjawab sebuah pertanyaan “Apakah sebenarnya memang mimpi itu adalah mimpiku?”. Jika jawabannya tidak maka wajar saja kan jika kita tidak memiliki niat untuk mewujudkannya. Pertanyakanlah kembali dari mana mimpi-mimpi itu muncul apakah itu dari dalam diri kita atau tidak karena motivasi terkuat sesungguhnya adalah motivasi yang berasal dari dalam diri kita sendiri.

Jika kita sudah cukup banyak bermimpi dan sudah berusaha keras untuk mewujudkannya maka yang tersisa adalah berdoa dan tetap berusaha lebih keras lagi. Sesungguhnya Allah yang mampu mengatur segala hal dalam kehidupan manusia dan yang pasti Allah itu maha adil dan mengetahui mana yang terbaik bagi umatnya. Jadi, tetap percaya saja pada kuasa Allah dan terus berdoa dan berusaha.

Sedikit pemikiran dari seorang Wiku Larutama silakan ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk.

Welcome to my world. :)

Kamis, 20 Maret 2014

Masih Nyamankah Jogjaku?

Berhati Nyaman, sebuah semboyan yang melekat pada kotaku tercinta Yogyakarta atau biasa disebut Jogja. Sebagai seorang anak yang lahir dan besar di Jogja aku sudah cukup banyak melewati berbagai momen di Jogja. Berbagai macam cerita telah banyak mengisi hidupku terkait dengan kota Jogjaku ini. Dapat dibilang bahwa kota Jogja merupakan salah satu kota yang sangat aku cintai, sebuah kota yang sangat nyaman untuk ditinggali dan masih kental akan budaya di kehidupan sehari-harinya.

Banyak cerita aku alami di kota Jogja. Cerita bahagia mengenai indahnya saat-saat bersama keluarga dan beragam rasa unik yang dialami ketika menjalani pendidikan mulai dari SD hingga akhirnya SMA (untuk TK saya lupa bagaimana rasanya hehe). Tidak hanya manisnya pengalaman di kota ini yang aku rasakan tetapi juga rasa pahitnya aku rasakan, saat kota ini diderita bencana gempa dahulu selain itu di kota ini pula aku merasakan sedihnya ditinggalkan oleh salah seorang teman. Manis pahit beragam rasa tapi itulah bagian dari hidupku, hidupku di kota Jogja.

Pada dasarnya segala hal di dunia ini akan memiliki  kecenderungan untuk berubah. Lalu bagaimanakah dengan kota Jogjaku? Apakah Jogja tidak berubah dan begitu-begitu saja? Aku rasa Jogja juga mengalami banyak perubahan hanya saja saat aku lahir hingga aku SMA aku tidak begitu merasakannya karena aku selalu hidup berdampingan dengan perubahan tersebut, perubahan yang ternyata sangat nyata. Terkadang kita memang melupakan hal yang begitu dekat dengan kita, unik ya.:)

16 Juli 2010
Sebuah peristiwa yang menjadi awal dan kelak akan banyak mengubah cara pandang seorang Wiku Larutama terhadap kota Jogja, pengunguman SNMPTN dan tertera tulisan Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung. Peristiwa inilah yang menjadi awal bagiku untuk melakukan perantauan yang tidak terlalu jauh sebenarnya tapi merupakan yang pertama bagiku, menyongsong Bandung sang kota kembang. Beberapa bulan awal masih banyak lah rasa kangen ke kota Jogja maklum anak baru dan sejuurnya aku belum pernah sama sekali menginjakan kaki di Bandung sejak aku TK. Kata orang tuaku sih dulu pernah ke Bandung waktu bayi tapi ya mana aku ingat bagaimana rasanya. Jogja bagiku memang sebuah kota begitu nyaman dan sulit untuk dilupakan tapi perlahan aku mulai menemukan suatu hal bahwa "Aku mulai jatuh cinta, pada Bandung."

Rasa cinta yang mulai tumbuh dan menguat terhadap Bandung membuatku mulai mau untuk memperluas pandanganku tentang Jogja bahwa Jogja tidak selalu indah dan Jogja juga mengalami banyak perubahan. Dalam beberapa kesempatan saat aku pulang ke Jogja perubahan cara pandang itu cukup terbukti, perubahan-perubahan yang dulu tidak dapat aku lihat kini mulai dapat aku lihat saat aku berjalan (dengan sesekali naik angkutan umum pastinya :D) berkeliling Jogja. Mulai banyak bangunan-bangunan tinggi berupa hotel dan mall dibangun dan mulai terjadi kemacetan di beberapa ruas jalan kota Jogja. Wah ternyata Jogja memang banyak mengalami perubahan. Dengan adanya perubahan-perubahan itu mulai muncul rasa khawatir di dalam pikiranku, akankah perubahan ini akan menghilangkan kenyamanan kota ini? Kota ini mulai terlihat menyerupai Bandung dan Jakarta dengan berbagai macam permasalahannya, diawali dengan banyaknya mall dan hotel serta mulai terjadinya mecet di lokasi yang sebelumnya jarang terjadi macet. Rasa cintaku terhadap Jogja masih dalam dan aku masih percaya bahwa kota ini tidak akan kehilangan jati diri, percaya bahwa kota ini akan tetap menjadi kota Jogja yang aku kenal.


Jadi, masih nyamankah Jogjaku? Aku tidak tahu tetapi aku pecaya bahwa Jogja akan tetap menjadi Jogja yang aku kenal

Senin, 27 Januari 2014

Alam Dan Budaya Yang Saling Menjaga

Beberapa hari yang lalu lebih tepatnya pada tanggal 24-26 Januari 2014 aku bersyukur dapat mengunjungi kembali pulau Bali untuk ke sekian kalinya yang terakhir aku kunjungi sekitar 7 tahun yang lalu. Namun terdapat hal yang berbeda dalam kunjungan kali ini. Mungkin dalam beberapa kesempatan kunjungan sebelumnya yang aku cari hanyalah sarana bermain saja suatu hal yang dapat dimaklumi mengingat pada waktu itu aku masih duduk di bangku SMP.
Aku rasa aku sudah cukup bosan dan merasa sayang untuk hanya sekedar menikmati wahana-wahan bermain jika berkunjung ke pulau dewata. Aku ingin sesuatu yang lebih... Lalu, apakah sebenarnya tujuan utama yang aku cari di Bali? Tujuan pertama adalah budaya dan yang kedua adalam alamnya.

Menuju tujuan pertama : Budaya
Di beberapa daerah elemen budaya telah menjadi sesuatu yang sangat melekat ke dalam kehidupan masyarakatnya. Salah satu contoh yang dapat aku ambil adalah tanah kelahiranku tercinta Yogyakarta. Dalam kehidupan bermasyarakat banyak sekali filosofi-filosofi (bukan hanya sekedar ritual) Jawa tentang kehidupan diterapkan. Hal itu benar-benar menarik rasa penasaranku untuk mengetahui seperti apakah budaya yang ada di Bali yang sangat terkenal di mata dunia sebagai tempat wisata yang luar biasa indah.
Jika dilihat sekilas Bali merupakan sebuah pulau yang kental akan nilai-nilai budaya. Mengapa seperti itu? Salah satu yang paling mencolok adalah adanya pura hampir di semua daerah di Bali selain itu banyaknya orang yang berpakaian adat dan sesaji yang tersebar di beberapa tempat menjadi hal pembeda yang dimiliki oleh Bali.
Secara lebih detil lagi terdapat beberapa budaya yang tertanam secara mengagumkan di Bali. Contoh simpelnya adalah di Bali tidak diperbolehkan untuk mendirikan gedung yang sangat tinggi dikarenakan adat yang melarangnya. Selain itu tidak jarang terdapat patung yang terdapat di tengah-tengah jalan yang meskipun terkadang menyebabkan macet tetap bersikukuh dipertahankan posisinya.
Satu lagi hal yang cukup menarik perhatianku adalah konsep hidup yang ada di Bali bahwa manusia itu hidup sinergis dengan alam. Pulau Bali dapat dibilang masih cukup lestari kondisi alamnya meskipun sudah sangat terkenal sebagai kota wisata dan akan memunculkan tekanan dari para investor untuk berlomba-lomba membangun fasilitas-fasilitas bangunan beton yang menggantikan hutan-hutan Bali. Salah satu contohnya adalah masih dipertahankannya hutan bakau yang berada di sekitar jalan tol Bali.

Berlanjut ke tujuan kedua : Alam
Sebagai pulau kecil yang dapat dikelilingi dalam 1 hari saja Bali memiliki keindahan alam yang sangat lengkap. Mulai dari kawasan pesisir hingga kawasan pegunungan memancarkan keindahannya masing-masing. Dalam perjalanan kali ini aku sangat bersyukur karena diberikan kesempatan untuk mengunjungi salah satu pantai yang ada di Bali yaitu pantai Pandawa. Pantai yang menurutku merupakan salah satu pantai terindah yang pernah aku lihat langsung (bisa dibilang jauh lebih indah dari pantai Kuta). Kombinasi yang sangat indah diperlihatkan antara laut yang sangat biru, pantai pasir putih yang bersih, tebing yang sangat megah, dan disertai dengan suara deburan ombak yang menghantam tebing di beberapa sisi. Selain itu masih terdapat beberapa hutan yang masih sangat rimbun yang terus menemani perjalanan berangakat ataupun pulang. Keindahan itu dilengkapi dengan adanya 2 buah gunung berapi yang berdiri kokoh yaitu gunung Agung dengan keagungannya serta gunung Batur dengan keindahan alam sekitarnya. Benar-benar sebuah alam yang sangat indah di tengah-tengah ramainya aktivitas turis domestik ataupun mancanegara dari berbagai penjuru belahan dunia. 

Perjalanan di Bali ini benar-benar memperlihatkan kepadaku bahwa alam dan budaya merupakan 2 buah elemen yang saling terkait satu sama lain. Sebuah hubungan yang sangat harmonis yang terus menjaga keseimbangan alamnya. Sebuah wujud nyata bahwa jika masyarakat menjaga budaya yang ada di daerah tersebut budaya akan menjaga alam tempat budaya itu berada karena sesungguhnya budaya tidak hanya berbicara tentang ritual tetapi budaya juga berbicara hal-hal yang lebih esensial yaitu filosofi bagaimana seharusnya manusia itu hidup bersama alam.

Selasa, 03 Desember 2013

Manusia dan Lingkungan

Berbicara tentang lingkungan tidak dapat dilepaskan dari aspek manusia yang terlibat dan saling berinteraksi memengaruhi satu dengan yang lainnya. Banyak orang bertanya “Sebenernya buat apa sih kita menjaga lingkungan?”. Jawabannya sih bisa bermacam-macam dari yang mulai cuma sekedar ikut-ikutan trend, ingin mengabdi kepada bumi, menjalankan perintah saja dari organisasi ataupun secara individu. Tapi menurutku terdapat beberapa hal dasar yang menjadi alasan mengapa sih kita harus menjaga lingkungan.

Pertama adalah hakikat diriku yang hidup sebagai seorang muslim. Dari mentor, orang tua, dan guruku selama ini aku benar-benar diajarkan bahwa pada dasarnya manusia itu adalah khalifah di muka bumi. Khalifah seperti apa ya menjadi orang yang menjaga kelangsungan hidup manusia dan sekitarnya.

Kedua adalah naluri dasarku sebagai manusia. Naluri dasar yang seperti apa sih? Naluri dasar yang dimaksud di sini adalah naluri dasar manusia untuk mempertahankan hidupnya. Jadi ya manusia selama ini menjaga lingkungan ya bukan untuk siapa-siapa selain diri mereka sendiri. Kenapa seperti itu? Ya tentu saja, selama ini manusia hidup di bumi dan ketika bumi rusak di mana manusia akan hidup?
Mau hidup di Mars? Bisa jadi.. :D


Jadii,,, apasih alasan seorang Wiku menjaga lingkungan sekitarnya? Yang pertama ya karena aku muslim dan yang kedua ya karena aku manusia. Sesimpel itu aja sih sebenernya. :)

Selasa, 04 Juni 2013

"Apakah sesungguhnya kebenaran itu?"

Who Am I?

Akhirnya dapat melepas rindu dengan blog yang mungkin sudah cukup lapuk karena jarang disentuh. Setelah sekian lama alhamdulillah kesempatan untuk menulis itu muncul lagi.:)
Sedikit berbagi cerita mungkin akan cukup menyenangkan. Welcome to My World...

Terkadang atau bahkan cukup sering kita bertanya tentang siapa diri kita sebenarnya. Beberapa mungkin sudah dapat menjawabnya dengan tegas namun tidak sedikit diantaranya yang masih cukup ragu dan kesulitan untuk menemukan jawabannya. Jujur saja sebenarnya aku sendiri hingga saat ini masih belum mendapatkan jawaban secara pasti terkait hal ini. Selalu muncul pertanyaan "Apakah benar seperti itu?" yang terlintas di kepala. Mungkin salah satu jawaban yang akan selalu tetap hingga nanti adalah bahwa aku dilahirkan di dunia ini adalah sebagai khalifah, makhluk Allah jadi sudah sewajarnya bila pada akhirnya semua yang dilakukan adalah tertuju pada Allah semata. Namun apakah itu cukup? Aku belum tahu jawabannya. Tetapi satu hal yang jelas adalah pertanyaan itu akan selalu muncul untuk memperkuat dasar dari jawaban-jawaban yang sudah ada. Sampai kapan hal ini akan berakhir? Bisa jadi 3 hari, 3 minggu, 3 bulan, 3 tahun, atau bahkan hingga mati tidak ada yang tau kapan hal ini akan berakhir, namun satu hal yang sangat aku yakini bahwa pencarian ini tidak akan sia-sia karena sesungguhnya manusia bukan makhluk yang sempurna namun akan selalu berusaha untuk meningkatkan kapasitas dirinya.

Sedikit cerita dari Wiku Larutama. Welcome to My World.:)

Rabu, 02 Januari 2013

" Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."

[Al-Insyirah : 6]

Kamis, 27 Desember 2012

" Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa):”Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."

[Al-Baqarah : 286]

Selasa, 04 Desember 2012

Minggu, 02 Desember 2012

Pelajaran Tentang Hidup

Berawal dari suatu pagi pada hari Sabtu, 1 Desember 2012. Bulan baru dan semoga banyak pelajaran baru bulan ini. Pagi itu aku terbangun dan kulihat jam di handphoneku yang menunjukan pukul 7.45 dan tentu saja cukup panik juga karena pada jam 8.00 aku sudah ada janji bertemu dengan mentorku. Akhirnya aku bergegas mandi, kukenakan satu-satunya baju koko yang kumiliki, dan kukayuh sepedaku dengan kecepatan maksimum menuju Salman. Setibanya di Salman kulihat jam di handphoneku dan ternyata waktu telah menunjukan pukul 8.45. Telat 45 menit. Nasi sudah menjadi bubur yang berlalu tak bisa kembali maka aku ambil saja pelajaran dari kejadian ini. Keputusan untuk tidur setelah sholat Subuh ternyata berdampak negatif.

Aku lanjutkan langkahku menuju koridor selatan Masjid Salman tempat aku dan mentorku janjian untuk bertemu. Aku cari mentorku dan kudapatkan dia sedang membaca buku sendiri di sudut koridor selatan Salman. Aku kemudian datang dan menyapanya. Setelah kutanya berapa orang yang akan hadir mentoring pada hari itu kudapatkan jawaban yang cukup mengejutkan. Ternyata aku satu-satunya yang bisa hadir pada mentoring hari itu. Maka dengan datangnya aku dimulailah kegiatan mentoring pada hari itu dengan bertilawah beberapa ayat terlebih dahulu. Setelah selesai tilawah mentorku menceritakan tentang pengalamannya berdiskusi tentang agama dengan orang lain. Di sini ia menekankan bahwa diskusi semacam itu dapat mengukur seberapa dalam pengetahuan dan iman kita tentang Islam. Sudah sampai sejauh mana kita membaca mengenai ajaran-ajaran dan sejarah Rasulullah Muhammad SAW. Selain itu pada hari itu aku diajarkan tentang bagaiman seharusnya kita untuk hidup.

Pada dasarnya manusia akan lebih mudah melakukan suatu perbuatan jika sudah biasa melakukan perbuatan tersebut. Tidak terkecuali perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Jika kita membiasakan untuk berbuat baik menjalankan segala perintah Allah SWT maka akan terasa lebih mudah untuk melakukannya sebaliknya jika kita membiasakan untuk berbuat jahat atau buruk maka kita akan lebih mudah untuk melakukan perbuatan buruk tersebut dalam hidup kita.

Setelah cukup lama kami berbingcang maka waktu menunjukan sekitar pukul 10.00 dan kami sudahi mentoring pada hari itu dengan berdoa. Setelah mentoring selesai kuambil sepedaku dan kuputuskan untuk mencari sarapan pagi yang sempat tertunda pada pagi itu. Sungguh banyak pelajaran yang sangat berharga aku dapatkan pada hari itu dan mungkin suatu pertanyaan penutup untuk inspirasi pada hari itu adalah : "Perbuatan apa yang akan anda biasakan untuk dilakukan? Baik buruk tergantung anda dan setiap pilihan pasti ada konsekuensinya masing-masing."

Senin, 20 Agustus 2012

Cinta Allah di Balik Penyakit


Sebagai seorang manusia biasa suatu hal yang biasa jika kita pernah merasakan sakit. Kita merasakan bahwa ketika tubuh kita sakit timbul rasa tidak nyaman di dalam diri kita. Namun, ketika kita mencoba melihat sisi positif dari segala hal termasuk ketika kita sedang sakit maka sesungguhnya ada skenario indah yang telah direncanakan oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang hamba yang beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yang terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat dan pada saat waktu senangnya.”
Ujaran Rasulullah SAW tersebut diriwayatkan oleh Abu Imamah al Bahili.

Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda :
“Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya.”
Allah memerintahkan :
  1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
  2. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya
  3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.
  4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.

Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba.
Namun untuk malaikat ke 4, Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba mukmin.
Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata : “Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan?”
Allah menjawab: “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.”

Jadi.... Alangkah indahnya jika kita dapat mengurangi keluh kesah kita ketika kita sakit karena sesungguhnya hal tersebut merupakan wujud kasih sayang Allah SWT kepada umatnya. :D

Jumat, 27 Juli 2012

Menjelajah Tepian Cikapundung

Mungkin sudah banyak orang tahu jika air merupakan salah satu sumber kehidupan. Hal itu telah dapat kita lihat dalam peradaban-peradaban kuno yang berkembang pesat di daerah tepian sungai. Kita dapat lihat bagaimana peradaban yang berkembang dengan sangat pesat di tepian sungai Nil. Bisa kita anggap bahwa kondisi di atas merupakan sebuah kondisi ideal bagaimana seharusnya sebuah sungai itu hidup. Sekarang mari kita sama-sama melihat kondisi sungai di indonesia. Ideal? Tentu saja masih jauh dari kata ideal.

Dapat kita ambil contoh terdekat dari kita sebuah sungai yang namanya tidak asing lagi bagi penduduk Bandung, sebuah sungai yang memiliki sebuah ikatan erat dengan masyarakat di tepiannya, Sungai Cikapundung. Kesempatan untuk menjelajah tepian sungai Cikapundung aku dapatkan pada hari Sabtu lalu tepatnya pada tanggal 21 Juli 2012. Meskipun hanya menjelajah dari daerah Siliwangi hingga sekitar lembah Sangkuriang aku dapat melihat beberapa hal yang menarik dan mungkin sedikit menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru. Air memang merupakan sebuah sumber kehidupan dan hal itu dapat aku lihat ketika aku menjelajah dan melihat bagaimana masyarakat pinggiran sungai hidup dengan mengandalkan air sungai Cikapundung. Sebagai tempat memancing, mandi, mencuci, serta mengairi lahan lahan yang ditanami di sepanjang sungai Cikapundung. Namun seperti yang kita semua ketahui kadar polutan dari sungai Cikapundung sudah dapat dibilang memprihatinkan. Kita dapat melihat sampah-sampah di sepanjang sungai Cikapundung dan jangan lupa limbah kotoran sapi yang jumlahnya cukup banyak hasil kiriman dari daerah Lembang.

Dengan kondisi seperti itu apakah layak jika kita menyebut bahwa sungai Cikapundung merupakan sumber kehidupan? Bukankah itu akan menjadi sebuah sumber penyakit? Bagimana kondisi ikan-ikan yang ditangkap dari sungai Cikapundung? Bagaimana kondisi tanaman yang berada di daerah tepian sungai Cikapundung? Tergambar dalam pikiranku beberapa ratus tahun yang lalu kondisi sungai Cikapundung tidak seperti ini, mungkin kondisi sungai Cikapundung ini masih sangat indah sama seperti indahnya kota Bandung ketika jaman dahulu. Namun mengapa kondisi tersebut dapat berubah dan dalam beberapa waktu dekat ini perubahan yang ada cukup besar. Hal tersebut terjadi karena masih banyak pola pikir dari manusia bahwa segala yang ada di dunia ini memang diciptakan untuk manusia dan manusia berada di puncak rantai makanan yang akan membuat manusia akan melakukan hal-hal sesuai apa yang mereka inginkan tanpa memikirkan dampak bagi kehidupan sekitarnya. Bukankah keseimbangan itu indah? Bukankah kehidupan itu indah ketika kita dapat hidup bersama-sama dengan alam? Mengapa harus ada perusakan ketika kita bisa menciptakan suatu ketenangan dari sebuah keseimbangan?

Dalam penjelajahan tepian Cikapundung kali ini aku mendapatkan sebuah hiburan di penghujung penjelajahan yaitu di daerah lembah Sangkuriang. Di sini aku dapat melihat sisa sisa alam yang masih terjaga. Masih banyak tanaman dan hewan-hewan yang masih dapat hidup di sini. Namun sampai kapan sisa tersebut akan terjaga mungkin hanya kita yang dapat menentukan dan melihat kondisi sungai Cikapundung yang telah kita ketahui bersama maka apakah sungai tetap menjadi sumber kehidupan? Kapan kita akan mulai berubah? Jawabannya ada di dalam diri kita masing-masing.

Minggu, 10 Juni 2012

Kebun Binatang : Melihat Masalah dari Dekat

Kebun binatang, sebuah kata yang tidak asing bagi kita tentunya. Sebuah tempat yang tentu saja dapat menarik perhatian orang yg mendengarnya dan aku termasuk salah satu orang tersebut.:)

Kebun binatang dapat berfungsi sebagai tempat konservasi. Tapi termasuk dalam konservasi apakah kebun binatang itu? Konservasi insitu atau konservasi eksitu? Apa itu konservasi eksitu apa itu konservasi insitu? Konservasi eksitu adalah konservasi yang dilaksanakan di luar dari habitat aslinya sedangkan sebaliknya konservasi insitu adalah konservasi yang dilaksanakan di habitat asalnya. Sekarang jelas kan kalau kebun binatang itu termasuk ke kategori konservasi eksitu karena di dalamnya terdapat hewan dan tumbuhan yang berasal bukan dari daerah tersebut.

Belum puas rasanya ketika kita berbicara mengenai kebun binatang jika kita belum berkunjung dan melihat secara langsung seperti apa kondisi di dalam kebun binatang yang sebenarnya. Mungkin di sini aku akan sedikit bercerita tentang sebuah perjalanan kecil di kebun binatang Bandung pada tanggal 2 Juni 2012.

Perjalanan diawali dengan kumpul dahulu di kampus ITB pada pukul 09.00. Sebenarnya rencana awal dari perjalanan adalah pukul 08.00 sudah berangkat dari kampus ITB, tapi karena ada satu dan lain hal terpaksa berangkatnya diundur menjadi sekitar pukul 09.00. Ok no problemo, kami 4 orang mahasiswa berangkat sekitar pukul 09.00. Sebelum menuju ke kebun binatang kami menuju sebuah taman segitiga yang berada di belakang ITB. Mungkin sedikit bercerita mengenai sejarah. Taman segitiga yang berada di belakang ITB tersebut dahulu termasuk dalam kawasan Jubileum Park dan taukah anda bahwa kebun binatang Bandung yang akan kami datangi juga termasuk dalam kawasan Jubileum Park. Bisa dibayangkan seluas apa Jubileum Park itu, mulai dari taman segitiga belakang ITB, babakan siliwangi, hingga kawasan kebun binatang. Oke, mungkin untuk sejarah Jubileum Park cukup sekian dan kita melanjutkannya ke objek utama yang dituju yaitu kebun binatang Bandung. Sebelum masuk kami diwajibkan untuk membeli tiket terlebih dahulu. Tiket masuk kebun binatang Bandung ini seharga 15000 rupiah, cukup mahal untuk kantong anak kosan yang kadang masih kesulitan makan. Rada lebay sih.:D

Lupakan masalah harga tiket, kami kemudian mulai masuk ke kebun binatang untuk melihat-lihat dan objek pertama kami adalah kandang rusa. Ketika sedang melihat-lihat kandang rusa perhatian kami teralihkan oleh sesosok rusa mini yang terduduk dan tidak berjalan seperti halnya rusa-rusa lain. Setelah dilihat lebih lanjut ternyata itu rusa yang baru dilahirkan yang masih belum bisa berjalan dengan benar dan masih terus dijaga dan ditunggu induknya. Sebuah kejutan tentu saja dapat melihat fenomena ini secara langsung karena sebelumnya hal tersebut hanya dapat dilihat dibalik layar kaca program-program di televisi. Setelah cukup lama berhenti melihat bayi rusa yang lucu tersebut kami melanjutkan perjalanan. Belum begitu jauh berjalan kami kembali berhenti untuk melihat suatu hal yang tidak biasa. Kambing. Loh, apa istimewanya sih kambing? Kambing tersebut menjadi hal yang menarik karena kambing tersebut berada di kandang kuda sumbawa. Entah bagaimana cara kambing tersebut bisa masuk ke dalam kandang kuda. Namun setelah lama akhirnya jawaban mengapa kambing tersebut dapat berada di kandang kuda terjawab. Ternyata pagar pemisah dari kedua kandang memiliki lubang yang cukup untuk sebuah kambing kecil masuk dan menyeberang ke kandang sebelah. Aku sempat heran apakah di kebun binatang ini tidak ada perawatan untuk kandang yang membuat kandang yang seperti itu dibiarkan saja. Setelah cukup melihat kejanggalan tersebut kami melanjutkan perjalanan ke kandang sitatunga yang berada juga di sebelah kandang kambing namun berada di sisi lain. Di kandang ini kami kembali menemukan keunikan. Kambing dari kandang sebelah melomoat pagar ke kandang sitatunga untuk mengambil makanannya. Setelah dilihat ternyata terdapat bagian pagar yang cukup pendek untuk dilompati oleh kambing hutan. Hmm... hewan yang cukup serakah. Untuk masalah kambing kami cukupkan sampai di sini dan kami melanjutkan kunjungan ke binatang-binatang lain.

Tujuan kami berikutnya adalah kandang beruang yaitu beruang madu dan beruang alaska. Beruang mekipun bisa dibilang sebagai binatang yang cukup ganas tetapi ternyata memiliki sisi yang lucu dan menarik untuk dilihat, mungkin kedua temanku lebih mengerti sisi kelucuan dari beruang tersebut karena tampaknya mereka adalah para penggemar beruang. Setibanya di kandang beruang kami melihat para beruang yang ternyata memang terlihat lucu. Tampaknya aku mulai terpengaruh kedua teman penggemar beruang ini.:D
Ketika sedang menikmati sisi menarik dari beruang tersebut tiba-tiba perhatianku sedikit teralihkan pada pengunjung lain di sampingku. Para beruang itu berdiri mengankat tangannya dan pengunjung tersebut melemparkan beberapa kacang ke dalam kandang. Sebuah sesuatau yang aneh dan cukup menyedihkan. Sosok beruang yang dalam pandanganku merupakan hewan buas namun kini di hadapanku mereka tampak begitu penurut hanya untuk sebuah kacang yang bahkan tidak akan membuat mereka kenyang. Bukankah memberi makan hewan itu dilarang ya? Ataukah terdapat pengecualian khusus untuk kebun binatang Bandung ini? Apakah beruang-beruang ini begitu laparnya hingga mau merelakan kebuasannya hilang hanya untuk sebuah kacang? Cukup untuk kandang beruang dan beberapa masalah di dalamnya kami melanjutkan kunjungan kami ke kandang binatang-binatang lain.

Pada perjalanan di kebun binatang ini kami melihat lebih dari 50 jenis binatang yang memiliki kandangnya masing-masing mulai dari hewan mamalia, aves, reptil, dan beberapa jenis ikan. Sebuah koleksi yang cukup banyak untuk sebuah kebun binatang yang luasnya mungkin tidak terlalu besar. Namun, terdapat beberapa hal yang cukup membuatku bingung. Kandang-kandang yang terdapat di kebun binatang ini pada umumnya berukuran kecil sehingga terkadang membuat hewan yang memiliki ukuuran tubuh besar sedikit terkekang. Beberapa kandang juga terlihat seperti kurang dirawat dan beberapa pengunjung dapat dengan bebas memberi makan pada hewan-hewan yang berada di dalam kandang. Tampaknya memang ada sebuah pengecualian untuk kebun binatang yang satu ini ataukah memang orang-orang yang tidak peduli dengan kondisi kebun binatang Bandung ini? Dari kondisi kebun binatang yang masih jauh dari kata ideal timbul sebuah pertanyaan. Sebenarnya kemanakah biaya masuk sebesar 15000 yang telah dibayarkan oleh pengunjung? Apakah sudah dioptimalkan untuk mensejahterakan hewan-hewan yang ada di dalam kebun binatang ini?

Setelah cukup lama mengelilingi kebun binatang Bandung ini muncul kembali sebuah pertanyaan besar dalam pikiranku. Kebun binatang kan termasuk dalam konservasi eksitu, berarti seharusnya binatang-binatang di dalamnya dapat mendapatkan kesejahteraa kan? Tapi dengan kondisi kebun binatang yang seperti ini akankah kesejahteraan tersebut didapatkan oleh para binatang ataukah kebun binatang ini hanya menjadi sebuah penjara bagi para binatang tersebut? Mungkin jika tiap hewan dapat ditanya pendapatnya mengenai kebun binatang ini akan menjadi hal yang menarik untuk mendengarkan pendapat-pendapat mereka. Imajinasi yang cukup aneh mungkin.:D

Setelah cukup lelah berkeliling kebun binatang kami memutuskan untuk pulang kembali ke kampus untuk melakukan sebuah sharing kecil mengenai perjalanan ke kebun binatang yang telah dilakukan. Mungkin kebun binatang ini masih dapat dikatakan jauh dari kata ideal namun bukan berarti kebun binatang ini tidak dapat berkembang dan menjadi lebih baik kan. Dari beberapa kekurangan yang ada tentu masih terdapat beberapa kelebihan. Memang kondisi kebun binatang dan binatang yang ada di dalamnya cukup membuatku sedih namun terdapat juga rasa senang ketika dapat melihat beberapa kelahiran dan bayi-bayi binatang yang masih kecil, lucu, sangat menarik. Mungkin uang sebesar 15000 yang telah kami bayarkan sudah setimpal dengan pengalaman untuk melihat beberapa binatang yang baru saja lahir. Tapi satu hal yang pasti bahwa  pada perjalanan ini aku mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman serta dapat memperluas pandangan mengenai permasalah yang ada di kebun binatang yang ternyata cukup kompleks.

Belajar tidak hanya ketika kita berada di dalam kelas dan mendengarkan apa yang guru katakan, belajar juga ketika kita berada di luar kelas bersama alam dan mendekatkan objek pendidikan dengan sang peserta didik.:)

Selasa, 10 April 2012

Another Amazing Trip

Sabtu, 7 April 2012

Karst Citatah, apa itu Karst Citatah? Pertanyaan itu terus muncul dalam pikiranku yang penasaran akan perjalanan seperti apa yang akan aku lalui hari ini. Pertanyaan itu pula yang menumbuhkan rasa semangatku akan perjalanan hari ini. Setelah persiapan dirasa cukup lengkap kuputuskan untuk bergegas menuju kampus untuk menjemput rasa penasaranku akan petualangan kali ini. Sesampainya di gerbang depan kulihat jam dan ternyata masih terlalu pagi maka aku sempatkan untuk membaca salah satu majalah favoritku yang belum usai kubaca karena padatnya tugas kuliah. Seiring berjalannya waktu para petualang satu persatu mulai berdatangan dan pada pukul 8 pagi kami memutuskan untuk berangkat menuju stasiun untuk menaiki kereta tujuan Padalarang. Mungkin butuh waktu kurang lebih setengah jam untuk menuju Padalarang menggunakan kereta ini.

Padalarang, keindahan macam apa yang ada di daerah ini? Setelah tiba di stasiun Padalarang kami segera menuju angkutan umum untuk menuju tujuan pertama kami pada hari ini. Tapi sebenarnya di mana letak tujuan pertama tersebut? Mungkin pertanyaan tersebut yang muncul dalam perjalanan menuju lokasi pertama.

Situ Ciburuy, perhentian pertama kami untuk istirahat dan membeli keperluan logistik perjalanan berikutnya. Setelah mebeli sejumlah makanan kecil kami melanjutkan perjalanan di daerah pegunungan kapur ini. Setelah cukup jauh berjalan mulai tersingkap mesin-mesin raksasa yang mengeksploitasi salah satu kekayaan gunung ini yaitu batu-batunya yang kaya akan mineral, pabrik penambangan kapur. Panas terik dan debu hasil pengolahan dari pabrik menjadi tantangan tersendiri bagi para petualang dalam perjalanannya dan akan menguji sejauh mana para petualang akan bertahan. Setelah berjalan cukup jauh perhatian kami teralih sejenak pada kebun jambu yang cukup luas dan berbuah cukup banyak. Kami mencoba untuk masuk ke kebun tersebut untuk mencari siapakah sang pemilik kebun ini. Setelah bertemu dengan sang pemilik kebun terjadilah transaksi jual beli antara kami dengan sang pemilik kebun. Baru pertama kali ini aku melihat jambu yang begitu banyaknya dan segar langsung dari kebun, dan yang cukup membuatku tidak percaya adalah mengenai harga yang ditawarkan oleh sang bapak pemilik kebun ini. Dua ribu rupiah adalah harga yang harus dibayar bukan  untuk 1 buah jambu melainkan 10 buah jambu. Sebuah perbedaan harga yang cukup besar jika dibandingkan buah di pasaran yang selama ini kita makan. Sebuah kerja keras yang hanya dihargai 200 rupiah per buah, nyaris tidak berharga bagi warga yang terbiasa hidup di kenyamanan kota. Apakah pemerintah memerhatikan hal ini? Sudah adilkah hasil yang mereka dapat? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab
Setelah cukup tercengang dengan harga dari jambu yang kami beli kami melanjutkan perjalanan dan kami dihadapkan pada kenyataan yang cukup menyedihkan. Karst T-30 (ketinggian 30 meter) yang kini telah berubah menjadi karst T-0, rata karena penambangan yang dilakukan. Namun kami masih cukup terhibur dengan masih tersisanya sebuah hawu (karst yang berbentuk seperti tungku). Bagiku ini merupakan pengalaman pertamaku melihat keindahan dari hawu yang terbentuk dari fenomena alam yang terjadi karena pelapukan secara alami.

Aku lihat sekelilingku. Begitu hijau dan menyegarkan mata. Hal itu cukup memunculkan rasa penasaranku. Pegunungan kapur yang subur dan ditumbuhi banyak tanaman? Bagaimana bisa? Kutanyakan hal itu pada salah satu petualang lain. Abu vulkanik gunung Tangkuban jawabannya. Sebuah letusan gunung Tangkuban yang membuat daerah ini tertutup dengan abu vulkanik yang membuatnya menjadi tanah yang subur.

Perjalanan berlanjut, Gua Pawon adalah tujuan berikutnya. Sebuah Gua yang namanya cukup asing di telingaku dan kembali menumbuhkan rasa penasaranku. Namun sebelum menuju Gua Pawon kami memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk makan siang. Kami melepas lelah dengan segelas es kelapa dan semangkuk mie ayam yang memiliki perbedaan harga yang cukup signifikan dengan harga di bandung. Segelas es kelapa dihargai 2000 rupiah dan mie ayam dihargai 3500 rupiah. Entah apa yang menyebabkan hal demikian terjadi. Setelah cukup beristirahat kami melanjutkan perjalanan untuk mencari masjid untuk tempat kami sholat sebelum masuk ke dalam Gua Pawon.

Untuk sebuah situs wisata, kondisi kawasan Gua Pawon cukup memprihatinkan. Akses jalan utama untuk menuju ke obyek tersebut sangatlah tidak layak. Banyak bebatuan dan tidak rata pastinya sehingga hanya kendaraan tangguh saja yang mampu melewatinya. Padahal jika dilihat potensinya, kawasan Gua Pawon merupakan kawasan dengan potensi yang tinggi karena pemandangan alamnya sangatlah indah dan tanahnya juga subur.

Seperti apa sebenarnya bagian dalam Gua Pawon itu? Nama Pawonyang berarti dapur diberikan karena pada penemuannya ditemukan beberapa sisa makanan yang diprediksi gua ini sebelumnya berfungsi sebagai dapur. Ketika kami akan mulai memasuki gua ini dari luar gua sudah tercium sebuah bau yang tidak begitu bersahabat. Bau tersebut tidak lain berasal dari bau guano yang banyak terdapat di dalam gua. Guano merupakan kotoran dari kelelawar yang banyak tinggal di dalam gua dan dapat dijadikan pupuk dengan kualitas tinggi sehingga guano banyak dicari oleh penduduk sekitar. Namun akhir-akhir ini penambangan guano di dalam gua tersebut dilarang karena beberapa tangan tidak bertanggung jawab tidak hanya mengambil guano dari dalam gua tetapi juga merusak dan mengabil batu-batu serta stalaktit yang ada di dalam gua. Gua Pawon merupakan gua yang memiliki 9 ruang di dalamnya dan di bawahnya masih mengalir sungai bawah tanah yang menandakan masih terjaganya kondisi dari Gua Pawon ini.

Langkah kami terhenti ketika kami melihat sebuah pagar besi yang memagari sesuatu. Aku mendekat dan berusaha melihat benda apa yang sangat berharga yang membuat orang memagarinya dengan pagar besi. Sosok replika fosil manusia purba perlahan mulai muncul dan memunculkan rasa takjubku. “Ki Sunda” orang-orang menyebut sosok manusia purba tersebut, sebuah sosok yang sedang dalam posisi menyerupai bayi dalam rahim.

Setelah cukup jauh berkeliling melihat isi gua yang sangat mengagumkan kami memutuskan untuk menyudahi petualangan kali ini dan melakukan sebuah diskusi sejenak sambil melepas lelah sebelum pulang kembali menuju Bandung. Banyak pengalaman dan pelajaran aku dapatkan dalam perjalanan kali ini yang mungkin tidak akan aku dapatkan dari kelas ketika aku kuliah. Sebuah kenyataan mengenai apa yang sesungguhnya terjadi. Alangkah indahnya alam itu jika keindahaan tetap terjaga dari tangan yang tidak bertanggung jawab. Sebuah ekowisata mungkin merupakan salah satu cara bagaimana menjaga keindahan tersebut dan tampaknya perlu dilakukan inovasi-inovasi di bidang pariwisata untuk mulai mengalihkan mata pencaharian orang yang biasa menambang batu kapur yang tentu saja dapat merusak lingkungan karena masyarakat sekitar sangat menolak penutupan tambang-tambang kapur yang ada dan cara biasa tentu saja tidak akan berhasil.

Dan pada akhirnya kami mengakhiri perjalanan kami di stasiun Bandung untuk kembali ke rutinitas masing-masing serta mungkin menyelesaikan sedikit sisa tugas kuliah yang masih ada. Mungkin kelak aku akan kembali ke sana dan semoga ketika aku kembali ke sana keindahan yang ada masih terjaga atau bahkan lebih dari itu. Terima kasih untuk para petualang yang mau memberiku sebuah pengalaman yang sangat berharga.

Minggu, 22 Januari 2012

Trip to Kareumbi

Sabtu, 21 Januari 2012 salah satu pengalaman yang menarik dalam hidupku aku dapatkan pada hari itu. Sebuah perjalanan menuju alam Kareumbi bersama teman-teman U-Green ITB. Kareumbi, sebuah kawasan konservasi yang letaknya berada di 3 kabupaten sekaligus kabupaten Bandung,Sumedang dan Garut. Jadi kita dapat melakukan perjalanan dari Bandung-Garut-Sumedang hanya dalam waktu kurang dari 1 menit. Banyak flora dan fauna hidup di kawasan ini. Di kawasan Kareumbi ini ada sebuah program menarik yaitu wali pohon. Wali pohon? Apa itu? Mungkin itu adalah pertanyaan yang pertama kali keluar dari pikiranku. Jadi, wali pohon adalah sebuah program menanam pohon dengan membayar 75 ribu rupiah per pohon dan pohon yang ditanam diberi nama kita yang menanamnya. Selain itu kita juga mendapatkan sertifikat dari pohon tersebut. Perawatan dari pohon dilakukan selama 5 tahun oleh pihak Kareumbi dan jika pohon mati maka akan diganti dengan yang baru. Di Karembi ini kita juga dapat membuat sebuah hutan dengan melakukan penanaman sebanyak 6000 pohon dan hutan tersebut akan diberi nama penanamnya. Hmm... kalau ITB punya hutan di sini sepertinya lumayan juga. Dengan jumlah mahasiswa yang tiap angkatannya berjumlah 3000 anak tampaknya hal tersebut mungkin terjadi.

Di Kareumbi kami juga mengunjungi tempat konservasi rusa. Selain rusa terdapat berbagai satwa hidup di kawasan ini dan kebetulan kami kemarin sempat melihat elang jawa dalam perjalanan kami di hutan menuju Cigumentong sebuah pemukiman yang berada di tengah hutan Kareumbi. Di dekat Cigumentong terdapat pembangkit listrik mikrohidro yang dapat menghasilkan listrik sebesar 3000 watt yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik dari Cigumentong. Sebenarnya di daerah ini terdapat 3 pembangkit mikrohidro namun pembangkit mikrohidro yang kami kunjungi merupakan yang terbesar dibandingkan 2 pembangkit yang lain yang menghasilkan listrik sebesar 1000 watt. Mikrohidro ini dibuat atas kerjasama dengan AHB (Asosiasi Hidro Bandung). Sebelum menggunakan pembangkit mikrohidro ini Cigumentong telah menggunakan panel surya sebagai sumber listrik. Terdapat masing-masing 1 panel surya di tiap rumah warga yang  menghasilkan listrik sebesar 4 watt untuk tiap panel. Selain itu terdapat 2 panel surya yang menghasilkan listrik sebesar 60 watt yang digunakan untuk seluruh desa. Wow, desa yang cukup unik dan modern. Untuk biaya perawatan diserahkan kepada penduduk Cigumentong dengan melakukan iuran sebesar 5000/rumah.

Setelah cukup beristirahat di Cigumentong kami kembali berjalan menuju rawa babi yang biasanya digunakan sebagai tempat pengamatan. Setelah cukup melihat rawa babi kami kemudian melanjutkan perjalanan kami manuju tempat semula. Di jalan kami sempat melihat binatang sejenis tupai yang biasa disebut dengan nama Jalalang. Beberapa meter berjalan kami melihat sebuah bangunan tua yang sudah rusak dan ditumbuhi ilalang yang dahulu merupakan rumah sakit rusa yang didirikan pada tahun 1992 namun karena sudah tidak dipakai maka bangunan tersebut mulai dijarah oleh orang-orang yang kurang bertanggung jawab. Namun terdapat rencana untuk kembali mengaktifkan rumah sakit rusa tersebut. Akhirnya kami tiba di lokasi awal kami datang pada pukul 15.00 dan sembari menunggu jemputan angkot datang aku menyempatkan diri untuk menikmati segelas kopi panas beserta 5 orang kakak kelasku. Akhirnya ankot jemputan kami datang dan kami akhirnya harus berpamitan pada Kareumbi untuk kembali ke Bandung. Kami kembali menuju Bandung menggunakan kereta yang juga kami pakai ketika berangkat dan sekitar pukul 18.00 kami sudah sampai kembali di Bandung dengan membawa banyak pengalaman yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya.

Belajar tak selamanya harus di kelas namun kita dapat belajar di luar kelas bersama alam yang dapat membuka pikiran kita mengenai lingkungan sekitar kita karena tak selamanya apa yang kita dapat di luar kelas bisa kita dapatkan di kelas. Dan satu hal yang pasti, belajar di luar kelas itu sangat menyenangkan. :D

Selasa, 20 September 2011

Tugas Wawancara Dosen dan Karyawan

Pada tugas wawancara kali ini saya mewawancarai bapak Dr. Ir. Iwan Irawan Wiratmaja atau dapat dipanggil bapak Iwan. Saya melakukan wawancara ini pada tanggal 15 September 2011. Bapak Iwan merupakan seorang yang sangat ramah dan sangat enak untuk diajak ngomong dengan santai. Bapak Iwan merupakan salah satu dosen TI yang bekerja di lab sistem produksi sejak tahun 1995. Bapak Iwan sendiri telah mulai bekerja dari tahun 1984 dan beliau merupakan lulusan ITB tahun 1984. Pada tahun 2005 beliau juga pernah bekerja di direktorat. Beliau mengajar materi S1 psikologi industri, manajemen industri, TA1, dan OPI. Sedangkan materi S2 belia mengajarkan IKM, manajemen teknologi, dan pengembangan oraganisasi.

Tentang pendapat bapak Iwan terhadap mahasiswa sekarang adalah bahwa mahasiswa sekarang semakin manja dalam segala hal, kemudian behaviour yang makin cuek dan cenderung egois, kurang menghargai orang lain. Namun beliau juga merasakan bahwa pola pikir dari para mahasiswa semakin meningkat.

Beliau memiliki harapan untuk para mahasiswa yaitu agar para mahasiswa memperbanyak dan memperbaiki interaksi dengan dosen, bapak Iwan juga berharap agar para mahasiswa dapat berorganisasi, serta agar para mahasiswa dapat memperbaiki nilai-nilai yang ada seperti sopan santun terhadap orang lain.

Kamis, 28 Juli 2011

Tugas Resume 27 Juli 2011

Pada tanggal 27 Juli 2011 PPAB haari ketiaga dimulai. Namun saya tidak dapat hadir pada sesi pagi karena kondisi kesehatan saya tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan PPAB. Saya baru dapat datang pada sesi mentoring pada jam 1 dan kami berpindah ke selasar GKU barat untuk bergabung dengan kelompok lain. Kami saling share informasi. Para mentor menjelaskan tentang dosen-dosen mana yang sebaiknya dipilih. Setelah sesi tersebut kami melakukan games. Game yang dilakukan adalah gamezone yaitu panitia memberikan sebuah kata ke orang yang berbaris paling depan dan memeragakan secara berantai kepada teman-teman lain di belakangnya. Kemudian orang yang paling belakang berusaha menebaknya. Setelah games selesai kami menuju ruang seminar untuk mempresentasikan tugas tentang industri dari 8 negara yang diberikan. Namun ketika itu saya melakukan pengisian KRS dan melakukan perwalian sehingga saya tidak dapat datang full. Dari informasi yang saya dapat, acara yang telah saya lewatkan adalah berupa presentasi dari Senator MTI di KM ITB kemudian presentasi dari BPA MTI dan presentasi dari BP MTI. Senator berfungsi untuk membuat kebijakan-kebijakan serta membahas isu-isu  melalui rapat senator. BPA merupakan badan legislatif pada MTI. Tugas dari BPA adalah mengawasi kinerja BP dan melakukan koreksi atas kinerja BP. Sementara BP merupakan pengurus inti yang mengurusi MTI selama masa jabatanya.

Tugas Wawancara Kakak NIM

Pada wawancara kakak nim kali ini saya mendapat tugas mewawancarai nim 60 karena saya memiliki nim 60. Saya berhasil mewawancarai 2 orang kakak nim yang pertama adalah kak Patricia Racel Rismayenlis angkatan 2009 dan kak Laura Mellisa Minnesota angkatan 2008. Dari kedua orang tersebut saya menangkap beberapa hal tentang MTI yaitu budaya di MTI, masalah di MTI, dan tentang realita bangsa. Untuk budaya kedua kakak ini memiliki pendapat yang sama yaitu eratnya kekeluargaan yang ada di MTI. Kak Laura juga berpendapat bahwa anak MTI adalah orang-orang yang kreatif. Untuk masalah yang ada di MTI mereka memiliki perbedaan pendapat. Kak Patricia mengatakan bahwa masalah yang ada di MTI dikarenakan banyaknya tugas yang bentrok dengan kegiatan MTI selain itu intensitas keaktifan dari tiap anggota masih belum merata. Sedangkan menurut kak Laura masalah di MTI dikarenakan kurangnya sense of belonging yang dikarenakan besarnya jumlah massa MTI sehingga menyebabkan kurangnya kepedulian terhadap MTI selain itu kekeluargaan yang menyeluruh kurang terfasilitasi dan terbentuknya cluster-cluster di MTI. Untuk realita bangsa saya menanyakan 2 pertanyaan berbeda. Untuk kak Patricia saya menanyakan tentang kondisi Indonesia sedangkan untuk kak Laura lebih spesifik yaitu keadaan Jakarta karena kebetulan beliau sedang KP di Jakarta. Tentang Indonesia kak Patricia berpendapat bahwa Indonesia itu kacau namun tidak semuanya seperti itu, masih ada mahasiswa yang masih memegang idealismenya intuk membangun bangsa. Tentang Jakarta kak Laura berpendapat bahwa Jakarta memang kacau dan dikarenakan karena banyaknya orang dari daerah lain yang datang ke Jakarta namun tidak bisa survive di sana. Ketika saya tanyakan tentang opsi pemindahan ibukota, kak Laura berpendapat bahwa pemindahan ibu kota itu tidak mudah karena butuh banyak penyesuaian dan pembangunan sudah terjadi di Jakarta beliau berpikir bahwa lebih baik dilakukan transmigrasi yang dapat mengurangi kepadatan penduduk selain itu perlu juga dilakukan pemerataan pembangunan agar masyarakat tidak terlalu terfokus pada Jakarta.
Pada wawancara kali ini saya mendapatkan banyak ilmu yang sebelumnya tidak saya ketahui dan sangat bermanfaat.

Rabu, 27 Juli 2011

Lagu Angkatan

Tunjukkan semangatmu

Rangkul temanmu

Ukir sebuah cerita

Satu masa bersama

Takkan terlupa

Biarlah abadi

Memori ini

Hingga saatnya nanti

Kami TI – MRI

Hadapi hari

reff :

Pengabdian kami

Untuk bangasa ini

Tak hanya sebuah mimpi

Sebuah langkah baru, 2010

Bangkitlah Indonesiaku