“Aku bermimpi untuk menjadi … .”
“Aku bermimpi kelak akan … .”
“Aku akan terus mengejar mimpiku untuk … .”
Apakah sebenarnya mimpi itu? Bagiku mimpi merupakan sebuah
angan-angan. Dan hanya tetap menjadi angan-anagn ketika sang pemilik mimpi
tidak berusaha mewujudkannya.
Banyak orang sering berbicara tentang mimpi, bahkan mimpi hampir
menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari diri seorang manusia.
“Impian itu seperti sayap. Dia
membawamu pergi ke berbagai tempat. Kurasa, mamamu sadar akan hal itu. Dia
tahu, kalau dia mencegah mimpimu, itu sama aja dengan memotong sayap burung.
Burung tersebut memang nggak akan lari, tapi burung tanpa sayap sudah bukan
burung lagi. Dan manusia tanpa mimpi, sudah bukan manusia lagi.”
― Windhy Puspitadewi, Let Go
Bagiku mimpi itu sangat dekat, tapi terkadang kita lupa untuk
mewujudkannya.
Setiap orang memiliki hak untuk bermimpi entah seperti apakah
mimpi tersebut. Tidak ada kata besar ataupun kecil ketika kita berbicara
tentang mimpi. Manusia itu unik begitu pula dengan mimpi-mimpinya. Tidak ada
yang salah ketika kita sebagai manusia bermimpi. Tidak ada yang salah ketika
aku bermimpi untuk mendapatkan nilai 80 ketika ujian. Tidak ada yang salah
ketika aku bermimpi untuk bergerak untuk membangun Indonesia. Tidak ada yang salah
juga ketika aku bermimpi agar kelak menemukan pendamping hidup yang baik.
(Sah-sah saja kan hehe)
Kita bisa bermimpi tapi terkadang kita lupa untuk mewujudkannya.
Sejujurnya hal itu pula yang sering aku alami selama aku hidup. Beberapa kali
aku bermimpi dan beberapa kali pula aku lupa untuk mewujudkannya. Mudah-mudahan
sih lupa yang tidak disengaja bukan lupa karena sengaja dilupakan. Sebenarnya
apakah yang menyebabkan mimpi itu lupa untuk diwujudkan? Dari yang selama ini
aku rasakan, faktor utama yang menyebabkan mimpi itu lupa untuk diwujudkan
adalah karena tidak adanya strategi dalam mencapai hal tersebut dan memang
tidak ada niat untuk mewujudkan mimpi tersebut.
Dengan tidak adanya strategi untuk mencapai mimpi tersebut maka
akan terjadi sebuah kebingungan untuk menjawab pertanyaan “Sudah di tahap mana
sih pencapaian mimpiku?”. Kita tidak bisa mengecek apakah ada kemajuan atau
bahkan kemunduran ketika kita tidak melakukan perancangan strategi untuk
mencapai mimpi. Hanya mengalir tanpa arah yang jelas dan ketika tersadar
ternyata sudah terlambat. Jadi, strategi itu penting untuk mewujudkan mimpi.
Berbicara tentang niat untuk mewujudkan mimpi mari kita awali
dengan mencoba menjawab sebuah pertanyaan “Apakah sebenarnya memang mimpi itu
adalah mimpiku?”. Jika jawabannya tidak maka wajar saja kan jika kita tidak
memiliki niat untuk mewujudkannya. Pertanyakanlah kembali dari mana mimpi-mimpi
itu muncul apakah itu dari dalam diri kita atau tidak karena motivasi terkuat
sesungguhnya adalah motivasi yang berasal dari dalam diri kita sendiri.
Jika kita sudah cukup banyak bermimpi dan sudah berusaha keras
untuk mewujudkannya maka yang tersisa adalah berdoa dan tetap berusaha lebih
keras lagi. Sesungguhnya Allah yang mampu mengatur segala hal dalam kehidupan
manusia dan yang pasti Allah itu maha adil dan mengetahui mana yang terbaik
bagi umatnya. Jadi, tetap percaya saja pada kuasa Allah dan terus berdoa dan
berusaha.
Sedikit pemikiran dari seorang Wiku Larutama silakan ambil yang
baik dan tinggalkan yang buruk.
Welcome to my world. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar