Sabtu, 7 April 2012
Karst Citatah, apa itu Karst Citatah? Pertanyaan itu terus muncul dalam pikiranku yang penasaran akan perjalanan seperti apa yang akan aku lalui hari ini. Pertanyaan itu pula yang menumbuhkan rasa semangatku akan perjalanan hari ini. Setelah persiapan dirasa cukup lengkap kuputuskan untuk bergegas menuju kampus untuk menjemput rasa penasaranku akan petualangan kali ini. Sesampainya di gerbang depan kulihat jam dan ternyata masih terlalu pagi maka aku sempatkan untuk membaca salah satu majalah favoritku yang belum usai kubaca karena padatnya tugas kuliah. Seiring berjalannya waktu para petualang satu persatu mulai berdatangan dan pada pukul 8 pagi kami memutuskan untuk berangkat menuju stasiun untuk menaiki kereta tujuan Padalarang. Mungkin butuh waktu kurang lebih setengah jam untuk menuju Padalarang menggunakan kereta ini.
Padalarang, keindahan macam apa yang ada di daerah ini? Setelah tiba di stasiun Padalarang kami segera menuju angkutan umum untuk menuju tujuan pertama kami pada hari ini. Tapi sebenarnya di mana letak tujuan pertama tersebut? Mungkin pertanyaan tersebut yang muncul dalam perjalanan menuju lokasi pertama.
Situ Ciburuy, perhentian pertama kami untuk istirahat dan membeli keperluan logistik perjalanan berikutnya. Setelah mebeli sejumlah makanan kecil kami melanjutkan perjalanan di daerah pegunungan kapur ini. Setelah cukup jauh berjalan mulai tersingkap mesin-mesin raksasa yang mengeksploitasi salah satu kekayaan gunung ini yaitu batu-batunya yang kaya akan mineral, pabrik penambangan kapur. Panas terik dan debu hasil pengolahan dari pabrik menjadi tantangan tersendiri bagi para petualang dalam perjalanannya dan akan menguji sejauh mana para petualang akan bertahan. Setelah berjalan cukup jauh perhatian kami teralih sejenak pada kebun jambu yang cukup luas dan berbuah cukup banyak. Kami mencoba untuk masuk ke kebun tersebut untuk mencari siapakah sang pemilik kebun ini. Setelah bertemu dengan sang pemilik kebun terjadilah transaksi jual beli antara kami dengan sang pemilik kebun. Baru pertama kali ini aku melihat jambu yang begitu banyaknya dan segar langsung dari kebun, dan yang cukup membuatku tidak percaya adalah mengenai harga yang ditawarkan oleh sang bapak pemilik kebun ini. Dua ribu rupiah adalah harga yang harus dibayar bukan untuk 1 buah jambu melainkan 10 buah jambu. Sebuah perbedaan harga yang cukup besar jika dibandingkan buah di pasaran yang selama ini kita makan. Sebuah kerja keras yang hanya dihargai 200 rupiah per buah, nyaris tidak berharga bagi warga yang terbiasa hidup di kenyamanan kota. Apakah pemerintah memerhatikan hal ini? Sudah adilkah hasil yang mereka dapat? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab
Setelah cukup tercengang dengan harga dari jambu yang kami beli kami melanjutkan perjalanan dan kami dihadapkan pada kenyataan yang cukup menyedihkan. Karst T-30 (ketinggian 30 meter) yang kini telah berubah menjadi karst T-0, rata karena penambangan yang dilakukan. Namun kami masih cukup terhibur dengan masih tersisanya sebuah hawu (karst yang berbentuk seperti tungku). Bagiku ini merupakan pengalaman pertamaku melihat keindahan dari hawu yang terbentuk dari fenomena alam yang terjadi karena pelapukan secara alami.
Aku lihat sekelilingku. Begitu hijau dan menyegarkan mata. Hal itu cukup memunculkan rasa penasaranku. Pegunungan kapur yang subur dan ditumbuhi banyak tanaman? Bagaimana bisa? Kutanyakan hal itu pada salah satu petualang lain. Abu vulkanik gunung Tangkuban jawabannya. Sebuah letusan gunung Tangkuban yang membuat daerah ini tertutup dengan abu vulkanik yang membuatnya menjadi tanah yang subur.
Perjalanan berlanjut, Gua Pawon adalah tujuan berikutnya. Sebuah Gua yang namanya cukup asing di telingaku dan kembali menumbuhkan rasa penasaranku. Namun sebelum menuju Gua Pawon kami memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk makan siang. Kami melepas lelah dengan segelas es kelapa dan semangkuk mie ayam yang memiliki perbedaan harga yang cukup signifikan dengan harga di bandung. Segelas es kelapa dihargai 2000 rupiah dan mie ayam dihargai 3500 rupiah. Entah apa yang menyebabkan hal demikian terjadi. Setelah cukup beristirahat kami melanjutkan perjalanan untuk mencari masjid untuk tempat kami sholat sebelum masuk ke dalam Gua Pawon.
Untuk sebuah situs wisata, kondisi kawasan Gua Pawon cukup memprihatinkan. Akses jalan utama untuk menuju ke obyek tersebut sangatlah tidak layak. Banyak bebatuan dan tidak rata pastinya sehingga hanya kendaraan tangguh saja yang mampu melewatinya. Padahal jika dilihat potensinya, kawasan Gua Pawon merupakan kawasan dengan potensi yang tinggi karena pemandangan alamnya sangatlah indah dan tanahnya juga subur.
Seperti apa sebenarnya bagian dalam Gua Pawon itu? Nama Pawonyang berarti dapur diberikan karena pada penemuannya ditemukan beberapa sisa makanan yang diprediksi gua ini sebelumnya berfungsi sebagai dapur. Ketika kami akan mulai memasuki gua ini dari luar gua sudah tercium sebuah bau yang tidak begitu bersahabat. Bau tersebut tidak lain berasal dari bau guano yang banyak terdapat di dalam gua. Guano merupakan kotoran dari kelelawar yang banyak tinggal di dalam gua dan dapat dijadikan pupuk dengan kualitas tinggi sehingga guano banyak dicari oleh penduduk sekitar. Namun akhir-akhir ini penambangan guano di dalam gua tersebut dilarang karena beberapa tangan tidak bertanggung jawab tidak hanya mengambil guano dari dalam gua tetapi juga merusak dan mengabil batu-batu serta stalaktit yang ada di dalam gua. Gua Pawon merupakan gua yang memiliki 9 ruang di dalamnya dan di bawahnya masih mengalir sungai bawah tanah yang menandakan masih terjaganya kondisi dari Gua Pawon ini.
Langkah kami terhenti ketika kami melihat sebuah pagar besi yang memagari sesuatu. Aku mendekat dan berusaha melihat benda apa yang sangat berharga yang membuat orang memagarinya dengan pagar besi. Sosok replika fosil manusia purba perlahan mulai muncul dan memunculkan rasa takjubku. “Ki Sunda” orang-orang menyebut sosok manusia purba tersebut, sebuah sosok yang sedang dalam posisi menyerupai bayi dalam rahim.
Setelah cukup jauh berkeliling melihat isi gua yang sangat mengagumkan kami memutuskan untuk menyudahi petualangan kali ini dan melakukan sebuah diskusi sejenak sambil melepas lelah sebelum pulang kembali menuju Bandung. Banyak pengalaman dan pelajaran aku dapatkan dalam perjalanan kali ini yang mungkin tidak akan aku dapatkan dari kelas ketika aku kuliah. Sebuah kenyataan mengenai apa yang sesungguhnya terjadi. Alangkah indahnya alam itu jika keindahaan tetap terjaga dari tangan yang tidak bertanggung jawab. Sebuah ekowisata mungkin merupakan salah satu cara bagaimana menjaga keindahan tersebut dan tampaknya perlu dilakukan inovasi-inovasi di bidang pariwisata untuk mulai mengalihkan mata pencaharian orang yang biasa menambang batu kapur yang tentu saja dapat merusak lingkungan karena masyarakat sekitar sangat menolak penutupan tambang-tambang kapur yang ada dan cara biasa tentu saja tidak akan berhasil.
Dan pada akhirnya kami mengakhiri perjalanan kami di stasiun Bandung untuk kembali ke rutinitas masing-masing serta mungkin menyelesaikan sedikit sisa tugas kuliah yang masih ada. Mungkin kelak aku akan kembali ke sana dan semoga ketika aku kembali ke sana keindahan yang ada masih terjaga atau bahkan lebih dari itu. Terima kasih untuk para petualang yang mau memberiku sebuah pengalaman yang sangat berharga.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar