Jumat, 27 Juli 2012

Menjelajah Tepian Cikapundung

Mungkin sudah banyak orang tahu jika air merupakan salah satu sumber kehidupan. Hal itu telah dapat kita lihat dalam peradaban-peradaban kuno yang berkembang pesat di daerah tepian sungai. Kita dapat lihat bagaimana peradaban yang berkembang dengan sangat pesat di tepian sungai Nil. Bisa kita anggap bahwa kondisi di atas merupakan sebuah kondisi ideal bagaimana seharusnya sebuah sungai itu hidup. Sekarang mari kita sama-sama melihat kondisi sungai di indonesia. Ideal? Tentu saja masih jauh dari kata ideal.

Dapat kita ambil contoh terdekat dari kita sebuah sungai yang namanya tidak asing lagi bagi penduduk Bandung, sebuah sungai yang memiliki sebuah ikatan erat dengan masyarakat di tepiannya, Sungai Cikapundung. Kesempatan untuk menjelajah tepian sungai Cikapundung aku dapatkan pada hari Sabtu lalu tepatnya pada tanggal 21 Juli 2012. Meskipun hanya menjelajah dari daerah Siliwangi hingga sekitar lembah Sangkuriang aku dapat melihat beberapa hal yang menarik dan mungkin sedikit menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru. Air memang merupakan sebuah sumber kehidupan dan hal itu dapat aku lihat ketika aku menjelajah dan melihat bagaimana masyarakat pinggiran sungai hidup dengan mengandalkan air sungai Cikapundung. Sebagai tempat memancing, mandi, mencuci, serta mengairi lahan lahan yang ditanami di sepanjang sungai Cikapundung. Namun seperti yang kita semua ketahui kadar polutan dari sungai Cikapundung sudah dapat dibilang memprihatinkan. Kita dapat melihat sampah-sampah di sepanjang sungai Cikapundung dan jangan lupa limbah kotoran sapi yang jumlahnya cukup banyak hasil kiriman dari daerah Lembang.

Dengan kondisi seperti itu apakah layak jika kita menyebut bahwa sungai Cikapundung merupakan sumber kehidupan? Bukankah itu akan menjadi sebuah sumber penyakit? Bagimana kondisi ikan-ikan yang ditangkap dari sungai Cikapundung? Bagaimana kondisi tanaman yang berada di daerah tepian sungai Cikapundung? Tergambar dalam pikiranku beberapa ratus tahun yang lalu kondisi sungai Cikapundung tidak seperti ini, mungkin kondisi sungai Cikapundung ini masih sangat indah sama seperti indahnya kota Bandung ketika jaman dahulu. Namun mengapa kondisi tersebut dapat berubah dan dalam beberapa waktu dekat ini perubahan yang ada cukup besar. Hal tersebut terjadi karena masih banyak pola pikir dari manusia bahwa segala yang ada di dunia ini memang diciptakan untuk manusia dan manusia berada di puncak rantai makanan yang akan membuat manusia akan melakukan hal-hal sesuai apa yang mereka inginkan tanpa memikirkan dampak bagi kehidupan sekitarnya. Bukankah keseimbangan itu indah? Bukankah kehidupan itu indah ketika kita dapat hidup bersama-sama dengan alam? Mengapa harus ada perusakan ketika kita bisa menciptakan suatu ketenangan dari sebuah keseimbangan?

Dalam penjelajahan tepian Cikapundung kali ini aku mendapatkan sebuah hiburan di penghujung penjelajahan yaitu di daerah lembah Sangkuriang. Di sini aku dapat melihat sisa sisa alam yang masih terjaga. Masih banyak tanaman dan hewan-hewan yang masih dapat hidup di sini. Namun sampai kapan sisa tersebut akan terjaga mungkin hanya kita yang dapat menentukan dan melihat kondisi sungai Cikapundung yang telah kita ketahui bersama maka apakah sungai tetap menjadi sumber kehidupan? Kapan kita akan mulai berubah? Jawabannya ada di dalam diri kita masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar