Kamis, 27 Desember 2012

" Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa):”Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."

[Al-Baqarah : 286]

Selasa, 04 Desember 2012

Minggu, 02 Desember 2012

Pelajaran Tentang Hidup

Berawal dari suatu pagi pada hari Sabtu, 1 Desember 2012. Bulan baru dan semoga banyak pelajaran baru bulan ini. Pagi itu aku terbangun dan kulihat jam di handphoneku yang menunjukan pukul 7.45 dan tentu saja cukup panik juga karena pada jam 8.00 aku sudah ada janji bertemu dengan mentorku. Akhirnya aku bergegas mandi, kukenakan satu-satunya baju koko yang kumiliki, dan kukayuh sepedaku dengan kecepatan maksimum menuju Salman. Setibanya di Salman kulihat jam di handphoneku dan ternyata waktu telah menunjukan pukul 8.45. Telat 45 menit. Nasi sudah menjadi bubur yang berlalu tak bisa kembali maka aku ambil saja pelajaran dari kejadian ini. Keputusan untuk tidur setelah sholat Subuh ternyata berdampak negatif.

Aku lanjutkan langkahku menuju koridor selatan Masjid Salman tempat aku dan mentorku janjian untuk bertemu. Aku cari mentorku dan kudapatkan dia sedang membaca buku sendiri di sudut koridor selatan Salman. Aku kemudian datang dan menyapanya. Setelah kutanya berapa orang yang akan hadir mentoring pada hari itu kudapatkan jawaban yang cukup mengejutkan. Ternyata aku satu-satunya yang bisa hadir pada mentoring hari itu. Maka dengan datangnya aku dimulailah kegiatan mentoring pada hari itu dengan bertilawah beberapa ayat terlebih dahulu. Setelah selesai tilawah mentorku menceritakan tentang pengalamannya berdiskusi tentang agama dengan orang lain. Di sini ia menekankan bahwa diskusi semacam itu dapat mengukur seberapa dalam pengetahuan dan iman kita tentang Islam. Sudah sampai sejauh mana kita membaca mengenai ajaran-ajaran dan sejarah Rasulullah Muhammad SAW. Selain itu pada hari itu aku diajarkan tentang bagaiman seharusnya kita untuk hidup.

Pada dasarnya manusia akan lebih mudah melakukan suatu perbuatan jika sudah biasa melakukan perbuatan tersebut. Tidak terkecuali perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Jika kita membiasakan untuk berbuat baik menjalankan segala perintah Allah SWT maka akan terasa lebih mudah untuk melakukannya sebaliknya jika kita membiasakan untuk berbuat jahat atau buruk maka kita akan lebih mudah untuk melakukan perbuatan buruk tersebut dalam hidup kita.

Setelah cukup lama kami berbingcang maka waktu menunjukan sekitar pukul 10.00 dan kami sudahi mentoring pada hari itu dengan berdoa. Setelah mentoring selesai kuambil sepedaku dan kuputuskan untuk mencari sarapan pagi yang sempat tertunda pada pagi itu. Sungguh banyak pelajaran yang sangat berharga aku dapatkan pada hari itu dan mungkin suatu pertanyaan penutup untuk inspirasi pada hari itu adalah : "Perbuatan apa yang akan anda biasakan untuk dilakukan? Baik buruk tergantung anda dan setiap pilihan pasti ada konsekuensinya masing-masing."

Senin, 20 Agustus 2012

Cinta Allah di Balik Penyakit


Sebagai seorang manusia biasa suatu hal yang biasa jika kita pernah merasakan sakit. Kita merasakan bahwa ketika tubuh kita sakit timbul rasa tidak nyaman di dalam diri kita. Namun, ketika kita mencoba melihat sisi positif dari segala hal termasuk ketika kita sedang sakit maka sesungguhnya ada skenario indah yang telah direncanakan oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang hamba yang beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yang terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat dan pada saat waktu senangnya.”
Ujaran Rasulullah SAW tersebut diriwayatkan oleh Abu Imamah al Bahili.

Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda :
“Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya.”
Allah memerintahkan :
  1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
  2. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya
  3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.
  4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.

Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba.
Namun untuk malaikat ke 4, Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba mukmin.
Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata : “Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan?”
Allah menjawab: “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.”

Jadi.... Alangkah indahnya jika kita dapat mengurangi keluh kesah kita ketika kita sakit karena sesungguhnya hal tersebut merupakan wujud kasih sayang Allah SWT kepada umatnya. :D

Jumat, 27 Juli 2012

Menjelajah Tepian Cikapundung

Mungkin sudah banyak orang tahu jika air merupakan salah satu sumber kehidupan. Hal itu telah dapat kita lihat dalam peradaban-peradaban kuno yang berkembang pesat di daerah tepian sungai. Kita dapat lihat bagaimana peradaban yang berkembang dengan sangat pesat di tepian sungai Nil. Bisa kita anggap bahwa kondisi di atas merupakan sebuah kondisi ideal bagaimana seharusnya sebuah sungai itu hidup. Sekarang mari kita sama-sama melihat kondisi sungai di indonesia. Ideal? Tentu saja masih jauh dari kata ideal.

Dapat kita ambil contoh terdekat dari kita sebuah sungai yang namanya tidak asing lagi bagi penduduk Bandung, sebuah sungai yang memiliki sebuah ikatan erat dengan masyarakat di tepiannya, Sungai Cikapundung. Kesempatan untuk menjelajah tepian sungai Cikapundung aku dapatkan pada hari Sabtu lalu tepatnya pada tanggal 21 Juli 2012. Meskipun hanya menjelajah dari daerah Siliwangi hingga sekitar lembah Sangkuriang aku dapat melihat beberapa hal yang menarik dan mungkin sedikit menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru. Air memang merupakan sebuah sumber kehidupan dan hal itu dapat aku lihat ketika aku menjelajah dan melihat bagaimana masyarakat pinggiran sungai hidup dengan mengandalkan air sungai Cikapundung. Sebagai tempat memancing, mandi, mencuci, serta mengairi lahan lahan yang ditanami di sepanjang sungai Cikapundung. Namun seperti yang kita semua ketahui kadar polutan dari sungai Cikapundung sudah dapat dibilang memprihatinkan. Kita dapat melihat sampah-sampah di sepanjang sungai Cikapundung dan jangan lupa limbah kotoran sapi yang jumlahnya cukup banyak hasil kiriman dari daerah Lembang.

Dengan kondisi seperti itu apakah layak jika kita menyebut bahwa sungai Cikapundung merupakan sumber kehidupan? Bukankah itu akan menjadi sebuah sumber penyakit? Bagimana kondisi ikan-ikan yang ditangkap dari sungai Cikapundung? Bagaimana kondisi tanaman yang berada di daerah tepian sungai Cikapundung? Tergambar dalam pikiranku beberapa ratus tahun yang lalu kondisi sungai Cikapundung tidak seperti ini, mungkin kondisi sungai Cikapundung ini masih sangat indah sama seperti indahnya kota Bandung ketika jaman dahulu. Namun mengapa kondisi tersebut dapat berubah dan dalam beberapa waktu dekat ini perubahan yang ada cukup besar. Hal tersebut terjadi karena masih banyak pola pikir dari manusia bahwa segala yang ada di dunia ini memang diciptakan untuk manusia dan manusia berada di puncak rantai makanan yang akan membuat manusia akan melakukan hal-hal sesuai apa yang mereka inginkan tanpa memikirkan dampak bagi kehidupan sekitarnya. Bukankah keseimbangan itu indah? Bukankah kehidupan itu indah ketika kita dapat hidup bersama-sama dengan alam? Mengapa harus ada perusakan ketika kita bisa menciptakan suatu ketenangan dari sebuah keseimbangan?

Dalam penjelajahan tepian Cikapundung kali ini aku mendapatkan sebuah hiburan di penghujung penjelajahan yaitu di daerah lembah Sangkuriang. Di sini aku dapat melihat sisa sisa alam yang masih terjaga. Masih banyak tanaman dan hewan-hewan yang masih dapat hidup di sini. Namun sampai kapan sisa tersebut akan terjaga mungkin hanya kita yang dapat menentukan dan melihat kondisi sungai Cikapundung yang telah kita ketahui bersama maka apakah sungai tetap menjadi sumber kehidupan? Kapan kita akan mulai berubah? Jawabannya ada di dalam diri kita masing-masing.

Minggu, 10 Juni 2012

Kebun Binatang : Melihat Masalah dari Dekat

Kebun binatang, sebuah kata yang tidak asing bagi kita tentunya. Sebuah tempat yang tentu saja dapat menarik perhatian orang yg mendengarnya dan aku termasuk salah satu orang tersebut.:)

Kebun binatang dapat berfungsi sebagai tempat konservasi. Tapi termasuk dalam konservasi apakah kebun binatang itu? Konservasi insitu atau konservasi eksitu? Apa itu konservasi eksitu apa itu konservasi insitu? Konservasi eksitu adalah konservasi yang dilaksanakan di luar dari habitat aslinya sedangkan sebaliknya konservasi insitu adalah konservasi yang dilaksanakan di habitat asalnya. Sekarang jelas kan kalau kebun binatang itu termasuk ke kategori konservasi eksitu karena di dalamnya terdapat hewan dan tumbuhan yang berasal bukan dari daerah tersebut.

Belum puas rasanya ketika kita berbicara mengenai kebun binatang jika kita belum berkunjung dan melihat secara langsung seperti apa kondisi di dalam kebun binatang yang sebenarnya. Mungkin di sini aku akan sedikit bercerita tentang sebuah perjalanan kecil di kebun binatang Bandung pada tanggal 2 Juni 2012.

Perjalanan diawali dengan kumpul dahulu di kampus ITB pada pukul 09.00. Sebenarnya rencana awal dari perjalanan adalah pukul 08.00 sudah berangkat dari kampus ITB, tapi karena ada satu dan lain hal terpaksa berangkatnya diundur menjadi sekitar pukul 09.00. Ok no problemo, kami 4 orang mahasiswa berangkat sekitar pukul 09.00. Sebelum menuju ke kebun binatang kami menuju sebuah taman segitiga yang berada di belakang ITB. Mungkin sedikit bercerita mengenai sejarah. Taman segitiga yang berada di belakang ITB tersebut dahulu termasuk dalam kawasan Jubileum Park dan taukah anda bahwa kebun binatang Bandung yang akan kami datangi juga termasuk dalam kawasan Jubileum Park. Bisa dibayangkan seluas apa Jubileum Park itu, mulai dari taman segitiga belakang ITB, babakan siliwangi, hingga kawasan kebun binatang. Oke, mungkin untuk sejarah Jubileum Park cukup sekian dan kita melanjutkannya ke objek utama yang dituju yaitu kebun binatang Bandung. Sebelum masuk kami diwajibkan untuk membeli tiket terlebih dahulu. Tiket masuk kebun binatang Bandung ini seharga 15000 rupiah, cukup mahal untuk kantong anak kosan yang kadang masih kesulitan makan. Rada lebay sih.:D

Lupakan masalah harga tiket, kami kemudian mulai masuk ke kebun binatang untuk melihat-lihat dan objek pertama kami adalah kandang rusa. Ketika sedang melihat-lihat kandang rusa perhatian kami teralihkan oleh sesosok rusa mini yang terduduk dan tidak berjalan seperti halnya rusa-rusa lain. Setelah dilihat lebih lanjut ternyata itu rusa yang baru dilahirkan yang masih belum bisa berjalan dengan benar dan masih terus dijaga dan ditunggu induknya. Sebuah kejutan tentu saja dapat melihat fenomena ini secara langsung karena sebelumnya hal tersebut hanya dapat dilihat dibalik layar kaca program-program di televisi. Setelah cukup lama berhenti melihat bayi rusa yang lucu tersebut kami melanjutkan perjalanan. Belum begitu jauh berjalan kami kembali berhenti untuk melihat suatu hal yang tidak biasa. Kambing. Loh, apa istimewanya sih kambing? Kambing tersebut menjadi hal yang menarik karena kambing tersebut berada di kandang kuda sumbawa. Entah bagaimana cara kambing tersebut bisa masuk ke dalam kandang kuda. Namun setelah lama akhirnya jawaban mengapa kambing tersebut dapat berada di kandang kuda terjawab. Ternyata pagar pemisah dari kedua kandang memiliki lubang yang cukup untuk sebuah kambing kecil masuk dan menyeberang ke kandang sebelah. Aku sempat heran apakah di kebun binatang ini tidak ada perawatan untuk kandang yang membuat kandang yang seperti itu dibiarkan saja. Setelah cukup melihat kejanggalan tersebut kami melanjutkan perjalanan ke kandang sitatunga yang berada juga di sebelah kandang kambing namun berada di sisi lain. Di kandang ini kami kembali menemukan keunikan. Kambing dari kandang sebelah melomoat pagar ke kandang sitatunga untuk mengambil makanannya. Setelah dilihat ternyata terdapat bagian pagar yang cukup pendek untuk dilompati oleh kambing hutan. Hmm... hewan yang cukup serakah. Untuk masalah kambing kami cukupkan sampai di sini dan kami melanjutkan kunjungan ke binatang-binatang lain.

Tujuan kami berikutnya adalah kandang beruang yaitu beruang madu dan beruang alaska. Beruang mekipun bisa dibilang sebagai binatang yang cukup ganas tetapi ternyata memiliki sisi yang lucu dan menarik untuk dilihat, mungkin kedua temanku lebih mengerti sisi kelucuan dari beruang tersebut karena tampaknya mereka adalah para penggemar beruang. Setibanya di kandang beruang kami melihat para beruang yang ternyata memang terlihat lucu. Tampaknya aku mulai terpengaruh kedua teman penggemar beruang ini.:D
Ketika sedang menikmati sisi menarik dari beruang tersebut tiba-tiba perhatianku sedikit teralihkan pada pengunjung lain di sampingku. Para beruang itu berdiri mengankat tangannya dan pengunjung tersebut melemparkan beberapa kacang ke dalam kandang. Sebuah sesuatau yang aneh dan cukup menyedihkan. Sosok beruang yang dalam pandanganku merupakan hewan buas namun kini di hadapanku mereka tampak begitu penurut hanya untuk sebuah kacang yang bahkan tidak akan membuat mereka kenyang. Bukankah memberi makan hewan itu dilarang ya? Ataukah terdapat pengecualian khusus untuk kebun binatang Bandung ini? Apakah beruang-beruang ini begitu laparnya hingga mau merelakan kebuasannya hilang hanya untuk sebuah kacang? Cukup untuk kandang beruang dan beberapa masalah di dalamnya kami melanjutkan kunjungan kami ke kandang binatang-binatang lain.

Pada perjalanan di kebun binatang ini kami melihat lebih dari 50 jenis binatang yang memiliki kandangnya masing-masing mulai dari hewan mamalia, aves, reptil, dan beberapa jenis ikan. Sebuah koleksi yang cukup banyak untuk sebuah kebun binatang yang luasnya mungkin tidak terlalu besar. Namun, terdapat beberapa hal yang cukup membuatku bingung. Kandang-kandang yang terdapat di kebun binatang ini pada umumnya berukuran kecil sehingga terkadang membuat hewan yang memiliki ukuuran tubuh besar sedikit terkekang. Beberapa kandang juga terlihat seperti kurang dirawat dan beberapa pengunjung dapat dengan bebas memberi makan pada hewan-hewan yang berada di dalam kandang. Tampaknya memang ada sebuah pengecualian untuk kebun binatang yang satu ini ataukah memang orang-orang yang tidak peduli dengan kondisi kebun binatang Bandung ini? Dari kondisi kebun binatang yang masih jauh dari kata ideal timbul sebuah pertanyaan. Sebenarnya kemanakah biaya masuk sebesar 15000 yang telah dibayarkan oleh pengunjung? Apakah sudah dioptimalkan untuk mensejahterakan hewan-hewan yang ada di dalam kebun binatang ini?

Setelah cukup lama mengelilingi kebun binatang Bandung ini muncul kembali sebuah pertanyaan besar dalam pikiranku. Kebun binatang kan termasuk dalam konservasi eksitu, berarti seharusnya binatang-binatang di dalamnya dapat mendapatkan kesejahteraa kan? Tapi dengan kondisi kebun binatang yang seperti ini akankah kesejahteraan tersebut didapatkan oleh para binatang ataukah kebun binatang ini hanya menjadi sebuah penjara bagi para binatang tersebut? Mungkin jika tiap hewan dapat ditanya pendapatnya mengenai kebun binatang ini akan menjadi hal yang menarik untuk mendengarkan pendapat-pendapat mereka. Imajinasi yang cukup aneh mungkin.:D

Setelah cukup lelah berkeliling kebun binatang kami memutuskan untuk pulang kembali ke kampus untuk melakukan sebuah sharing kecil mengenai perjalanan ke kebun binatang yang telah dilakukan. Mungkin kebun binatang ini masih dapat dikatakan jauh dari kata ideal namun bukan berarti kebun binatang ini tidak dapat berkembang dan menjadi lebih baik kan. Dari beberapa kekurangan yang ada tentu masih terdapat beberapa kelebihan. Memang kondisi kebun binatang dan binatang yang ada di dalamnya cukup membuatku sedih namun terdapat juga rasa senang ketika dapat melihat beberapa kelahiran dan bayi-bayi binatang yang masih kecil, lucu, sangat menarik. Mungkin uang sebesar 15000 yang telah kami bayarkan sudah setimpal dengan pengalaman untuk melihat beberapa binatang yang baru saja lahir. Tapi satu hal yang pasti bahwa  pada perjalanan ini aku mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman serta dapat memperluas pandangan mengenai permasalah yang ada di kebun binatang yang ternyata cukup kompleks.

Belajar tidak hanya ketika kita berada di dalam kelas dan mendengarkan apa yang guru katakan, belajar juga ketika kita berada di luar kelas bersama alam dan mendekatkan objek pendidikan dengan sang peserta didik.:)

Selasa, 10 April 2012

Another Amazing Trip

Sabtu, 7 April 2012

Karst Citatah, apa itu Karst Citatah? Pertanyaan itu terus muncul dalam pikiranku yang penasaran akan perjalanan seperti apa yang akan aku lalui hari ini. Pertanyaan itu pula yang menumbuhkan rasa semangatku akan perjalanan hari ini. Setelah persiapan dirasa cukup lengkap kuputuskan untuk bergegas menuju kampus untuk menjemput rasa penasaranku akan petualangan kali ini. Sesampainya di gerbang depan kulihat jam dan ternyata masih terlalu pagi maka aku sempatkan untuk membaca salah satu majalah favoritku yang belum usai kubaca karena padatnya tugas kuliah. Seiring berjalannya waktu para petualang satu persatu mulai berdatangan dan pada pukul 8 pagi kami memutuskan untuk berangkat menuju stasiun untuk menaiki kereta tujuan Padalarang. Mungkin butuh waktu kurang lebih setengah jam untuk menuju Padalarang menggunakan kereta ini.

Padalarang, keindahan macam apa yang ada di daerah ini? Setelah tiba di stasiun Padalarang kami segera menuju angkutan umum untuk menuju tujuan pertama kami pada hari ini. Tapi sebenarnya di mana letak tujuan pertama tersebut? Mungkin pertanyaan tersebut yang muncul dalam perjalanan menuju lokasi pertama.

Situ Ciburuy, perhentian pertama kami untuk istirahat dan membeli keperluan logistik perjalanan berikutnya. Setelah mebeli sejumlah makanan kecil kami melanjutkan perjalanan di daerah pegunungan kapur ini. Setelah cukup jauh berjalan mulai tersingkap mesin-mesin raksasa yang mengeksploitasi salah satu kekayaan gunung ini yaitu batu-batunya yang kaya akan mineral, pabrik penambangan kapur. Panas terik dan debu hasil pengolahan dari pabrik menjadi tantangan tersendiri bagi para petualang dalam perjalanannya dan akan menguji sejauh mana para petualang akan bertahan. Setelah berjalan cukup jauh perhatian kami teralih sejenak pada kebun jambu yang cukup luas dan berbuah cukup banyak. Kami mencoba untuk masuk ke kebun tersebut untuk mencari siapakah sang pemilik kebun ini. Setelah bertemu dengan sang pemilik kebun terjadilah transaksi jual beli antara kami dengan sang pemilik kebun. Baru pertama kali ini aku melihat jambu yang begitu banyaknya dan segar langsung dari kebun, dan yang cukup membuatku tidak percaya adalah mengenai harga yang ditawarkan oleh sang bapak pemilik kebun ini. Dua ribu rupiah adalah harga yang harus dibayar bukan  untuk 1 buah jambu melainkan 10 buah jambu. Sebuah perbedaan harga yang cukup besar jika dibandingkan buah di pasaran yang selama ini kita makan. Sebuah kerja keras yang hanya dihargai 200 rupiah per buah, nyaris tidak berharga bagi warga yang terbiasa hidup di kenyamanan kota. Apakah pemerintah memerhatikan hal ini? Sudah adilkah hasil yang mereka dapat? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab
Setelah cukup tercengang dengan harga dari jambu yang kami beli kami melanjutkan perjalanan dan kami dihadapkan pada kenyataan yang cukup menyedihkan. Karst T-30 (ketinggian 30 meter) yang kini telah berubah menjadi karst T-0, rata karena penambangan yang dilakukan. Namun kami masih cukup terhibur dengan masih tersisanya sebuah hawu (karst yang berbentuk seperti tungku). Bagiku ini merupakan pengalaman pertamaku melihat keindahan dari hawu yang terbentuk dari fenomena alam yang terjadi karena pelapukan secara alami.

Aku lihat sekelilingku. Begitu hijau dan menyegarkan mata. Hal itu cukup memunculkan rasa penasaranku. Pegunungan kapur yang subur dan ditumbuhi banyak tanaman? Bagaimana bisa? Kutanyakan hal itu pada salah satu petualang lain. Abu vulkanik gunung Tangkuban jawabannya. Sebuah letusan gunung Tangkuban yang membuat daerah ini tertutup dengan abu vulkanik yang membuatnya menjadi tanah yang subur.

Perjalanan berlanjut, Gua Pawon adalah tujuan berikutnya. Sebuah Gua yang namanya cukup asing di telingaku dan kembali menumbuhkan rasa penasaranku. Namun sebelum menuju Gua Pawon kami memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk makan siang. Kami melepas lelah dengan segelas es kelapa dan semangkuk mie ayam yang memiliki perbedaan harga yang cukup signifikan dengan harga di bandung. Segelas es kelapa dihargai 2000 rupiah dan mie ayam dihargai 3500 rupiah. Entah apa yang menyebabkan hal demikian terjadi. Setelah cukup beristirahat kami melanjutkan perjalanan untuk mencari masjid untuk tempat kami sholat sebelum masuk ke dalam Gua Pawon.

Untuk sebuah situs wisata, kondisi kawasan Gua Pawon cukup memprihatinkan. Akses jalan utama untuk menuju ke obyek tersebut sangatlah tidak layak. Banyak bebatuan dan tidak rata pastinya sehingga hanya kendaraan tangguh saja yang mampu melewatinya. Padahal jika dilihat potensinya, kawasan Gua Pawon merupakan kawasan dengan potensi yang tinggi karena pemandangan alamnya sangatlah indah dan tanahnya juga subur.

Seperti apa sebenarnya bagian dalam Gua Pawon itu? Nama Pawonyang berarti dapur diberikan karena pada penemuannya ditemukan beberapa sisa makanan yang diprediksi gua ini sebelumnya berfungsi sebagai dapur. Ketika kami akan mulai memasuki gua ini dari luar gua sudah tercium sebuah bau yang tidak begitu bersahabat. Bau tersebut tidak lain berasal dari bau guano yang banyak terdapat di dalam gua. Guano merupakan kotoran dari kelelawar yang banyak tinggal di dalam gua dan dapat dijadikan pupuk dengan kualitas tinggi sehingga guano banyak dicari oleh penduduk sekitar. Namun akhir-akhir ini penambangan guano di dalam gua tersebut dilarang karena beberapa tangan tidak bertanggung jawab tidak hanya mengambil guano dari dalam gua tetapi juga merusak dan mengabil batu-batu serta stalaktit yang ada di dalam gua. Gua Pawon merupakan gua yang memiliki 9 ruang di dalamnya dan di bawahnya masih mengalir sungai bawah tanah yang menandakan masih terjaganya kondisi dari Gua Pawon ini.

Langkah kami terhenti ketika kami melihat sebuah pagar besi yang memagari sesuatu. Aku mendekat dan berusaha melihat benda apa yang sangat berharga yang membuat orang memagarinya dengan pagar besi. Sosok replika fosil manusia purba perlahan mulai muncul dan memunculkan rasa takjubku. “Ki Sunda” orang-orang menyebut sosok manusia purba tersebut, sebuah sosok yang sedang dalam posisi menyerupai bayi dalam rahim.

Setelah cukup jauh berkeliling melihat isi gua yang sangat mengagumkan kami memutuskan untuk menyudahi petualangan kali ini dan melakukan sebuah diskusi sejenak sambil melepas lelah sebelum pulang kembali menuju Bandung. Banyak pengalaman dan pelajaran aku dapatkan dalam perjalanan kali ini yang mungkin tidak akan aku dapatkan dari kelas ketika aku kuliah. Sebuah kenyataan mengenai apa yang sesungguhnya terjadi. Alangkah indahnya alam itu jika keindahaan tetap terjaga dari tangan yang tidak bertanggung jawab. Sebuah ekowisata mungkin merupakan salah satu cara bagaimana menjaga keindahan tersebut dan tampaknya perlu dilakukan inovasi-inovasi di bidang pariwisata untuk mulai mengalihkan mata pencaharian orang yang biasa menambang batu kapur yang tentu saja dapat merusak lingkungan karena masyarakat sekitar sangat menolak penutupan tambang-tambang kapur yang ada dan cara biasa tentu saja tidak akan berhasil.

Dan pada akhirnya kami mengakhiri perjalanan kami di stasiun Bandung untuk kembali ke rutinitas masing-masing serta mungkin menyelesaikan sedikit sisa tugas kuliah yang masih ada. Mungkin kelak aku akan kembali ke sana dan semoga ketika aku kembali ke sana keindahan yang ada masih terjaga atau bahkan lebih dari itu. Terima kasih untuk para petualang yang mau memberiku sebuah pengalaman yang sangat berharga.

Minggu, 22 Januari 2012

Trip to Kareumbi

Sabtu, 21 Januari 2012 salah satu pengalaman yang menarik dalam hidupku aku dapatkan pada hari itu. Sebuah perjalanan menuju alam Kareumbi bersama teman-teman U-Green ITB. Kareumbi, sebuah kawasan konservasi yang letaknya berada di 3 kabupaten sekaligus kabupaten Bandung,Sumedang dan Garut. Jadi kita dapat melakukan perjalanan dari Bandung-Garut-Sumedang hanya dalam waktu kurang dari 1 menit. Banyak flora dan fauna hidup di kawasan ini. Di kawasan Kareumbi ini ada sebuah program menarik yaitu wali pohon. Wali pohon? Apa itu? Mungkin itu adalah pertanyaan yang pertama kali keluar dari pikiranku. Jadi, wali pohon adalah sebuah program menanam pohon dengan membayar 75 ribu rupiah per pohon dan pohon yang ditanam diberi nama kita yang menanamnya. Selain itu kita juga mendapatkan sertifikat dari pohon tersebut. Perawatan dari pohon dilakukan selama 5 tahun oleh pihak Kareumbi dan jika pohon mati maka akan diganti dengan yang baru. Di Karembi ini kita juga dapat membuat sebuah hutan dengan melakukan penanaman sebanyak 6000 pohon dan hutan tersebut akan diberi nama penanamnya. Hmm... kalau ITB punya hutan di sini sepertinya lumayan juga. Dengan jumlah mahasiswa yang tiap angkatannya berjumlah 3000 anak tampaknya hal tersebut mungkin terjadi.

Di Kareumbi kami juga mengunjungi tempat konservasi rusa. Selain rusa terdapat berbagai satwa hidup di kawasan ini dan kebetulan kami kemarin sempat melihat elang jawa dalam perjalanan kami di hutan menuju Cigumentong sebuah pemukiman yang berada di tengah hutan Kareumbi. Di dekat Cigumentong terdapat pembangkit listrik mikrohidro yang dapat menghasilkan listrik sebesar 3000 watt yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik dari Cigumentong. Sebenarnya di daerah ini terdapat 3 pembangkit mikrohidro namun pembangkit mikrohidro yang kami kunjungi merupakan yang terbesar dibandingkan 2 pembangkit yang lain yang menghasilkan listrik sebesar 1000 watt. Mikrohidro ini dibuat atas kerjasama dengan AHB (Asosiasi Hidro Bandung). Sebelum menggunakan pembangkit mikrohidro ini Cigumentong telah menggunakan panel surya sebagai sumber listrik. Terdapat masing-masing 1 panel surya di tiap rumah warga yang  menghasilkan listrik sebesar 4 watt untuk tiap panel. Selain itu terdapat 2 panel surya yang menghasilkan listrik sebesar 60 watt yang digunakan untuk seluruh desa. Wow, desa yang cukup unik dan modern. Untuk biaya perawatan diserahkan kepada penduduk Cigumentong dengan melakukan iuran sebesar 5000/rumah.

Setelah cukup beristirahat di Cigumentong kami kembali berjalan menuju rawa babi yang biasanya digunakan sebagai tempat pengamatan. Setelah cukup melihat rawa babi kami kemudian melanjutkan perjalanan kami manuju tempat semula. Di jalan kami sempat melihat binatang sejenis tupai yang biasa disebut dengan nama Jalalang. Beberapa meter berjalan kami melihat sebuah bangunan tua yang sudah rusak dan ditumbuhi ilalang yang dahulu merupakan rumah sakit rusa yang didirikan pada tahun 1992 namun karena sudah tidak dipakai maka bangunan tersebut mulai dijarah oleh orang-orang yang kurang bertanggung jawab. Namun terdapat rencana untuk kembali mengaktifkan rumah sakit rusa tersebut. Akhirnya kami tiba di lokasi awal kami datang pada pukul 15.00 dan sembari menunggu jemputan angkot datang aku menyempatkan diri untuk menikmati segelas kopi panas beserta 5 orang kakak kelasku. Akhirnya ankot jemputan kami datang dan kami akhirnya harus berpamitan pada Kareumbi untuk kembali ke Bandung. Kami kembali menuju Bandung menggunakan kereta yang juga kami pakai ketika berangkat dan sekitar pukul 18.00 kami sudah sampai kembali di Bandung dengan membawa banyak pengalaman yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya.

Belajar tak selamanya harus di kelas namun kita dapat belajar di luar kelas bersama alam yang dapat membuka pikiran kita mengenai lingkungan sekitar kita karena tak selamanya apa yang kita dapat di luar kelas bisa kita dapatkan di kelas. Dan satu hal yang pasti, belajar di luar kelas itu sangat menyenangkan. :D