Senin, 20 Agustus 2012

Cinta Allah di Balik Penyakit


Sebagai seorang manusia biasa suatu hal yang biasa jika kita pernah merasakan sakit. Kita merasakan bahwa ketika tubuh kita sakit timbul rasa tidak nyaman di dalam diri kita. Namun, ketika kita mencoba melihat sisi positif dari segala hal termasuk ketika kita sedang sakit maka sesungguhnya ada skenario indah yang telah direncanakan oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang hamba yang beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yang terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat dan pada saat waktu senangnya.”
Ujaran Rasulullah SAW tersebut diriwayatkan oleh Abu Imamah al Bahili.

Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda :
“Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya.”
Allah memerintahkan :
  1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
  2. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya
  3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.
  4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.

Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba.
Namun untuk malaikat ke 4, Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba mukmin.
Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata : “Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan?”
Allah menjawab: “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.”

Jadi.... Alangkah indahnya jika kita dapat mengurangi keluh kesah kita ketika kita sakit karena sesungguhnya hal tersebut merupakan wujud kasih sayang Allah SWT kepada umatnya. :D

Jumat, 27 Juli 2012

Menjelajah Tepian Cikapundung

Mungkin sudah banyak orang tahu jika air merupakan salah satu sumber kehidupan. Hal itu telah dapat kita lihat dalam peradaban-peradaban kuno yang berkembang pesat di daerah tepian sungai. Kita dapat lihat bagaimana peradaban yang berkembang dengan sangat pesat di tepian sungai Nil. Bisa kita anggap bahwa kondisi di atas merupakan sebuah kondisi ideal bagaimana seharusnya sebuah sungai itu hidup. Sekarang mari kita sama-sama melihat kondisi sungai di indonesia. Ideal? Tentu saja masih jauh dari kata ideal.

Dapat kita ambil contoh terdekat dari kita sebuah sungai yang namanya tidak asing lagi bagi penduduk Bandung, sebuah sungai yang memiliki sebuah ikatan erat dengan masyarakat di tepiannya, Sungai Cikapundung. Kesempatan untuk menjelajah tepian sungai Cikapundung aku dapatkan pada hari Sabtu lalu tepatnya pada tanggal 21 Juli 2012. Meskipun hanya menjelajah dari daerah Siliwangi hingga sekitar lembah Sangkuriang aku dapat melihat beberapa hal yang menarik dan mungkin sedikit menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru. Air memang merupakan sebuah sumber kehidupan dan hal itu dapat aku lihat ketika aku menjelajah dan melihat bagaimana masyarakat pinggiran sungai hidup dengan mengandalkan air sungai Cikapundung. Sebagai tempat memancing, mandi, mencuci, serta mengairi lahan lahan yang ditanami di sepanjang sungai Cikapundung. Namun seperti yang kita semua ketahui kadar polutan dari sungai Cikapundung sudah dapat dibilang memprihatinkan. Kita dapat melihat sampah-sampah di sepanjang sungai Cikapundung dan jangan lupa limbah kotoran sapi yang jumlahnya cukup banyak hasil kiriman dari daerah Lembang.

Dengan kondisi seperti itu apakah layak jika kita menyebut bahwa sungai Cikapundung merupakan sumber kehidupan? Bukankah itu akan menjadi sebuah sumber penyakit? Bagimana kondisi ikan-ikan yang ditangkap dari sungai Cikapundung? Bagaimana kondisi tanaman yang berada di daerah tepian sungai Cikapundung? Tergambar dalam pikiranku beberapa ratus tahun yang lalu kondisi sungai Cikapundung tidak seperti ini, mungkin kondisi sungai Cikapundung ini masih sangat indah sama seperti indahnya kota Bandung ketika jaman dahulu. Namun mengapa kondisi tersebut dapat berubah dan dalam beberapa waktu dekat ini perubahan yang ada cukup besar. Hal tersebut terjadi karena masih banyak pola pikir dari manusia bahwa segala yang ada di dunia ini memang diciptakan untuk manusia dan manusia berada di puncak rantai makanan yang akan membuat manusia akan melakukan hal-hal sesuai apa yang mereka inginkan tanpa memikirkan dampak bagi kehidupan sekitarnya. Bukankah keseimbangan itu indah? Bukankah kehidupan itu indah ketika kita dapat hidup bersama-sama dengan alam? Mengapa harus ada perusakan ketika kita bisa menciptakan suatu ketenangan dari sebuah keseimbangan?

Dalam penjelajahan tepian Cikapundung kali ini aku mendapatkan sebuah hiburan di penghujung penjelajahan yaitu di daerah lembah Sangkuriang. Di sini aku dapat melihat sisa sisa alam yang masih terjaga. Masih banyak tanaman dan hewan-hewan yang masih dapat hidup di sini. Namun sampai kapan sisa tersebut akan terjaga mungkin hanya kita yang dapat menentukan dan melihat kondisi sungai Cikapundung yang telah kita ketahui bersama maka apakah sungai tetap menjadi sumber kehidupan? Kapan kita akan mulai berubah? Jawabannya ada di dalam diri kita masing-masing.

Minggu, 10 Juni 2012

Kebun Binatang : Melihat Masalah dari Dekat

Kebun binatang, sebuah kata yang tidak asing bagi kita tentunya. Sebuah tempat yang tentu saja dapat menarik perhatian orang yg mendengarnya dan aku termasuk salah satu orang tersebut.:)

Kebun binatang dapat berfungsi sebagai tempat konservasi. Tapi termasuk dalam konservasi apakah kebun binatang itu? Konservasi insitu atau konservasi eksitu? Apa itu konservasi eksitu apa itu konservasi insitu? Konservasi eksitu adalah konservasi yang dilaksanakan di luar dari habitat aslinya sedangkan sebaliknya konservasi insitu adalah konservasi yang dilaksanakan di habitat asalnya. Sekarang jelas kan kalau kebun binatang itu termasuk ke kategori konservasi eksitu karena di dalamnya terdapat hewan dan tumbuhan yang berasal bukan dari daerah tersebut.

Belum puas rasanya ketika kita berbicara mengenai kebun binatang jika kita belum berkunjung dan melihat secara langsung seperti apa kondisi di dalam kebun binatang yang sebenarnya. Mungkin di sini aku akan sedikit bercerita tentang sebuah perjalanan kecil di kebun binatang Bandung pada tanggal 2 Juni 2012.

Perjalanan diawali dengan kumpul dahulu di kampus ITB pada pukul 09.00. Sebenarnya rencana awal dari perjalanan adalah pukul 08.00 sudah berangkat dari kampus ITB, tapi karena ada satu dan lain hal terpaksa berangkatnya diundur menjadi sekitar pukul 09.00. Ok no problemo, kami 4 orang mahasiswa berangkat sekitar pukul 09.00. Sebelum menuju ke kebun binatang kami menuju sebuah taman segitiga yang berada di belakang ITB. Mungkin sedikit bercerita mengenai sejarah. Taman segitiga yang berada di belakang ITB tersebut dahulu termasuk dalam kawasan Jubileum Park dan taukah anda bahwa kebun binatang Bandung yang akan kami datangi juga termasuk dalam kawasan Jubileum Park. Bisa dibayangkan seluas apa Jubileum Park itu, mulai dari taman segitiga belakang ITB, babakan siliwangi, hingga kawasan kebun binatang. Oke, mungkin untuk sejarah Jubileum Park cukup sekian dan kita melanjutkannya ke objek utama yang dituju yaitu kebun binatang Bandung. Sebelum masuk kami diwajibkan untuk membeli tiket terlebih dahulu. Tiket masuk kebun binatang Bandung ini seharga 15000 rupiah, cukup mahal untuk kantong anak kosan yang kadang masih kesulitan makan. Rada lebay sih.:D

Lupakan masalah harga tiket, kami kemudian mulai masuk ke kebun binatang untuk melihat-lihat dan objek pertama kami adalah kandang rusa. Ketika sedang melihat-lihat kandang rusa perhatian kami teralihkan oleh sesosok rusa mini yang terduduk dan tidak berjalan seperti halnya rusa-rusa lain. Setelah dilihat lebih lanjut ternyata itu rusa yang baru dilahirkan yang masih belum bisa berjalan dengan benar dan masih terus dijaga dan ditunggu induknya. Sebuah kejutan tentu saja dapat melihat fenomena ini secara langsung karena sebelumnya hal tersebut hanya dapat dilihat dibalik layar kaca program-program di televisi. Setelah cukup lama berhenti melihat bayi rusa yang lucu tersebut kami melanjutkan perjalanan. Belum begitu jauh berjalan kami kembali berhenti untuk melihat suatu hal yang tidak biasa. Kambing. Loh, apa istimewanya sih kambing? Kambing tersebut menjadi hal yang menarik karena kambing tersebut berada di kandang kuda sumbawa. Entah bagaimana cara kambing tersebut bisa masuk ke dalam kandang kuda. Namun setelah lama akhirnya jawaban mengapa kambing tersebut dapat berada di kandang kuda terjawab. Ternyata pagar pemisah dari kedua kandang memiliki lubang yang cukup untuk sebuah kambing kecil masuk dan menyeberang ke kandang sebelah. Aku sempat heran apakah di kebun binatang ini tidak ada perawatan untuk kandang yang membuat kandang yang seperti itu dibiarkan saja. Setelah cukup melihat kejanggalan tersebut kami melanjutkan perjalanan ke kandang sitatunga yang berada juga di sebelah kandang kambing namun berada di sisi lain. Di kandang ini kami kembali menemukan keunikan. Kambing dari kandang sebelah melomoat pagar ke kandang sitatunga untuk mengambil makanannya. Setelah dilihat ternyata terdapat bagian pagar yang cukup pendek untuk dilompati oleh kambing hutan. Hmm... hewan yang cukup serakah. Untuk masalah kambing kami cukupkan sampai di sini dan kami melanjutkan kunjungan ke binatang-binatang lain.

Tujuan kami berikutnya adalah kandang beruang yaitu beruang madu dan beruang alaska. Beruang mekipun bisa dibilang sebagai binatang yang cukup ganas tetapi ternyata memiliki sisi yang lucu dan menarik untuk dilihat, mungkin kedua temanku lebih mengerti sisi kelucuan dari beruang tersebut karena tampaknya mereka adalah para penggemar beruang. Setibanya di kandang beruang kami melihat para beruang yang ternyata memang terlihat lucu. Tampaknya aku mulai terpengaruh kedua teman penggemar beruang ini.:D
Ketika sedang menikmati sisi menarik dari beruang tersebut tiba-tiba perhatianku sedikit teralihkan pada pengunjung lain di sampingku. Para beruang itu berdiri mengankat tangannya dan pengunjung tersebut melemparkan beberapa kacang ke dalam kandang. Sebuah sesuatau yang aneh dan cukup menyedihkan. Sosok beruang yang dalam pandanganku merupakan hewan buas namun kini di hadapanku mereka tampak begitu penurut hanya untuk sebuah kacang yang bahkan tidak akan membuat mereka kenyang. Bukankah memberi makan hewan itu dilarang ya? Ataukah terdapat pengecualian khusus untuk kebun binatang Bandung ini? Apakah beruang-beruang ini begitu laparnya hingga mau merelakan kebuasannya hilang hanya untuk sebuah kacang? Cukup untuk kandang beruang dan beberapa masalah di dalamnya kami melanjutkan kunjungan kami ke kandang binatang-binatang lain.

Pada perjalanan di kebun binatang ini kami melihat lebih dari 50 jenis binatang yang memiliki kandangnya masing-masing mulai dari hewan mamalia, aves, reptil, dan beberapa jenis ikan. Sebuah koleksi yang cukup banyak untuk sebuah kebun binatang yang luasnya mungkin tidak terlalu besar. Namun, terdapat beberapa hal yang cukup membuatku bingung. Kandang-kandang yang terdapat di kebun binatang ini pada umumnya berukuran kecil sehingga terkadang membuat hewan yang memiliki ukuuran tubuh besar sedikit terkekang. Beberapa kandang juga terlihat seperti kurang dirawat dan beberapa pengunjung dapat dengan bebas memberi makan pada hewan-hewan yang berada di dalam kandang. Tampaknya memang ada sebuah pengecualian untuk kebun binatang yang satu ini ataukah memang orang-orang yang tidak peduli dengan kondisi kebun binatang Bandung ini? Dari kondisi kebun binatang yang masih jauh dari kata ideal timbul sebuah pertanyaan. Sebenarnya kemanakah biaya masuk sebesar 15000 yang telah dibayarkan oleh pengunjung? Apakah sudah dioptimalkan untuk mensejahterakan hewan-hewan yang ada di dalam kebun binatang ini?

Setelah cukup lama mengelilingi kebun binatang Bandung ini muncul kembali sebuah pertanyaan besar dalam pikiranku. Kebun binatang kan termasuk dalam konservasi eksitu, berarti seharusnya binatang-binatang di dalamnya dapat mendapatkan kesejahteraa kan? Tapi dengan kondisi kebun binatang yang seperti ini akankah kesejahteraan tersebut didapatkan oleh para binatang ataukah kebun binatang ini hanya menjadi sebuah penjara bagi para binatang tersebut? Mungkin jika tiap hewan dapat ditanya pendapatnya mengenai kebun binatang ini akan menjadi hal yang menarik untuk mendengarkan pendapat-pendapat mereka. Imajinasi yang cukup aneh mungkin.:D

Setelah cukup lelah berkeliling kebun binatang kami memutuskan untuk pulang kembali ke kampus untuk melakukan sebuah sharing kecil mengenai perjalanan ke kebun binatang yang telah dilakukan. Mungkin kebun binatang ini masih dapat dikatakan jauh dari kata ideal namun bukan berarti kebun binatang ini tidak dapat berkembang dan menjadi lebih baik kan. Dari beberapa kekurangan yang ada tentu masih terdapat beberapa kelebihan. Memang kondisi kebun binatang dan binatang yang ada di dalamnya cukup membuatku sedih namun terdapat juga rasa senang ketika dapat melihat beberapa kelahiran dan bayi-bayi binatang yang masih kecil, lucu, sangat menarik. Mungkin uang sebesar 15000 yang telah kami bayarkan sudah setimpal dengan pengalaman untuk melihat beberapa binatang yang baru saja lahir. Tapi satu hal yang pasti bahwa  pada perjalanan ini aku mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman serta dapat memperluas pandangan mengenai permasalah yang ada di kebun binatang yang ternyata cukup kompleks.

Belajar tidak hanya ketika kita berada di dalam kelas dan mendengarkan apa yang guru katakan, belajar juga ketika kita berada di luar kelas bersama alam dan mendekatkan objek pendidikan dengan sang peserta didik.:)