Selasa, 10 April 2012

Another Amazing Trip

Sabtu, 7 April 2012

Karst Citatah, apa itu Karst Citatah? Pertanyaan itu terus muncul dalam pikiranku yang penasaran akan perjalanan seperti apa yang akan aku lalui hari ini. Pertanyaan itu pula yang menumbuhkan rasa semangatku akan perjalanan hari ini. Setelah persiapan dirasa cukup lengkap kuputuskan untuk bergegas menuju kampus untuk menjemput rasa penasaranku akan petualangan kali ini. Sesampainya di gerbang depan kulihat jam dan ternyata masih terlalu pagi maka aku sempatkan untuk membaca salah satu majalah favoritku yang belum usai kubaca karena padatnya tugas kuliah. Seiring berjalannya waktu para petualang satu persatu mulai berdatangan dan pada pukul 8 pagi kami memutuskan untuk berangkat menuju stasiun untuk menaiki kereta tujuan Padalarang. Mungkin butuh waktu kurang lebih setengah jam untuk menuju Padalarang menggunakan kereta ini.

Padalarang, keindahan macam apa yang ada di daerah ini? Setelah tiba di stasiun Padalarang kami segera menuju angkutan umum untuk menuju tujuan pertama kami pada hari ini. Tapi sebenarnya di mana letak tujuan pertama tersebut? Mungkin pertanyaan tersebut yang muncul dalam perjalanan menuju lokasi pertama.

Situ Ciburuy, perhentian pertama kami untuk istirahat dan membeli keperluan logistik perjalanan berikutnya. Setelah mebeli sejumlah makanan kecil kami melanjutkan perjalanan di daerah pegunungan kapur ini. Setelah cukup jauh berjalan mulai tersingkap mesin-mesin raksasa yang mengeksploitasi salah satu kekayaan gunung ini yaitu batu-batunya yang kaya akan mineral, pabrik penambangan kapur. Panas terik dan debu hasil pengolahan dari pabrik menjadi tantangan tersendiri bagi para petualang dalam perjalanannya dan akan menguji sejauh mana para petualang akan bertahan. Setelah berjalan cukup jauh perhatian kami teralih sejenak pada kebun jambu yang cukup luas dan berbuah cukup banyak. Kami mencoba untuk masuk ke kebun tersebut untuk mencari siapakah sang pemilik kebun ini. Setelah bertemu dengan sang pemilik kebun terjadilah transaksi jual beli antara kami dengan sang pemilik kebun. Baru pertama kali ini aku melihat jambu yang begitu banyaknya dan segar langsung dari kebun, dan yang cukup membuatku tidak percaya adalah mengenai harga yang ditawarkan oleh sang bapak pemilik kebun ini. Dua ribu rupiah adalah harga yang harus dibayar bukan  untuk 1 buah jambu melainkan 10 buah jambu. Sebuah perbedaan harga yang cukup besar jika dibandingkan buah di pasaran yang selama ini kita makan. Sebuah kerja keras yang hanya dihargai 200 rupiah per buah, nyaris tidak berharga bagi warga yang terbiasa hidup di kenyamanan kota. Apakah pemerintah memerhatikan hal ini? Sudah adilkah hasil yang mereka dapat? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab
Setelah cukup tercengang dengan harga dari jambu yang kami beli kami melanjutkan perjalanan dan kami dihadapkan pada kenyataan yang cukup menyedihkan. Karst T-30 (ketinggian 30 meter) yang kini telah berubah menjadi karst T-0, rata karena penambangan yang dilakukan. Namun kami masih cukup terhibur dengan masih tersisanya sebuah hawu (karst yang berbentuk seperti tungku). Bagiku ini merupakan pengalaman pertamaku melihat keindahan dari hawu yang terbentuk dari fenomena alam yang terjadi karena pelapukan secara alami.

Aku lihat sekelilingku. Begitu hijau dan menyegarkan mata. Hal itu cukup memunculkan rasa penasaranku. Pegunungan kapur yang subur dan ditumbuhi banyak tanaman? Bagaimana bisa? Kutanyakan hal itu pada salah satu petualang lain. Abu vulkanik gunung Tangkuban jawabannya. Sebuah letusan gunung Tangkuban yang membuat daerah ini tertutup dengan abu vulkanik yang membuatnya menjadi tanah yang subur.

Perjalanan berlanjut, Gua Pawon adalah tujuan berikutnya. Sebuah Gua yang namanya cukup asing di telingaku dan kembali menumbuhkan rasa penasaranku. Namun sebelum menuju Gua Pawon kami memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk makan siang. Kami melepas lelah dengan segelas es kelapa dan semangkuk mie ayam yang memiliki perbedaan harga yang cukup signifikan dengan harga di bandung. Segelas es kelapa dihargai 2000 rupiah dan mie ayam dihargai 3500 rupiah. Entah apa yang menyebabkan hal demikian terjadi. Setelah cukup beristirahat kami melanjutkan perjalanan untuk mencari masjid untuk tempat kami sholat sebelum masuk ke dalam Gua Pawon.

Untuk sebuah situs wisata, kondisi kawasan Gua Pawon cukup memprihatinkan. Akses jalan utama untuk menuju ke obyek tersebut sangatlah tidak layak. Banyak bebatuan dan tidak rata pastinya sehingga hanya kendaraan tangguh saja yang mampu melewatinya. Padahal jika dilihat potensinya, kawasan Gua Pawon merupakan kawasan dengan potensi yang tinggi karena pemandangan alamnya sangatlah indah dan tanahnya juga subur.

Seperti apa sebenarnya bagian dalam Gua Pawon itu? Nama Pawonyang berarti dapur diberikan karena pada penemuannya ditemukan beberapa sisa makanan yang diprediksi gua ini sebelumnya berfungsi sebagai dapur. Ketika kami akan mulai memasuki gua ini dari luar gua sudah tercium sebuah bau yang tidak begitu bersahabat. Bau tersebut tidak lain berasal dari bau guano yang banyak terdapat di dalam gua. Guano merupakan kotoran dari kelelawar yang banyak tinggal di dalam gua dan dapat dijadikan pupuk dengan kualitas tinggi sehingga guano banyak dicari oleh penduduk sekitar. Namun akhir-akhir ini penambangan guano di dalam gua tersebut dilarang karena beberapa tangan tidak bertanggung jawab tidak hanya mengambil guano dari dalam gua tetapi juga merusak dan mengabil batu-batu serta stalaktit yang ada di dalam gua. Gua Pawon merupakan gua yang memiliki 9 ruang di dalamnya dan di bawahnya masih mengalir sungai bawah tanah yang menandakan masih terjaganya kondisi dari Gua Pawon ini.

Langkah kami terhenti ketika kami melihat sebuah pagar besi yang memagari sesuatu. Aku mendekat dan berusaha melihat benda apa yang sangat berharga yang membuat orang memagarinya dengan pagar besi. Sosok replika fosil manusia purba perlahan mulai muncul dan memunculkan rasa takjubku. “Ki Sunda” orang-orang menyebut sosok manusia purba tersebut, sebuah sosok yang sedang dalam posisi menyerupai bayi dalam rahim.

Setelah cukup jauh berkeliling melihat isi gua yang sangat mengagumkan kami memutuskan untuk menyudahi petualangan kali ini dan melakukan sebuah diskusi sejenak sambil melepas lelah sebelum pulang kembali menuju Bandung. Banyak pengalaman dan pelajaran aku dapatkan dalam perjalanan kali ini yang mungkin tidak akan aku dapatkan dari kelas ketika aku kuliah. Sebuah kenyataan mengenai apa yang sesungguhnya terjadi. Alangkah indahnya alam itu jika keindahaan tetap terjaga dari tangan yang tidak bertanggung jawab. Sebuah ekowisata mungkin merupakan salah satu cara bagaimana menjaga keindahan tersebut dan tampaknya perlu dilakukan inovasi-inovasi di bidang pariwisata untuk mulai mengalihkan mata pencaharian orang yang biasa menambang batu kapur yang tentu saja dapat merusak lingkungan karena masyarakat sekitar sangat menolak penutupan tambang-tambang kapur yang ada dan cara biasa tentu saja tidak akan berhasil.

Dan pada akhirnya kami mengakhiri perjalanan kami di stasiun Bandung untuk kembali ke rutinitas masing-masing serta mungkin menyelesaikan sedikit sisa tugas kuliah yang masih ada. Mungkin kelak aku akan kembali ke sana dan semoga ketika aku kembali ke sana keindahan yang ada masih terjaga atau bahkan lebih dari itu. Terima kasih untuk para petualang yang mau memberiku sebuah pengalaman yang sangat berharga.

Minggu, 22 Januari 2012

Trip to Kareumbi

Sabtu, 21 Januari 2012 salah satu pengalaman yang menarik dalam hidupku aku dapatkan pada hari itu. Sebuah perjalanan menuju alam Kareumbi bersama teman-teman U-Green ITB. Kareumbi, sebuah kawasan konservasi yang letaknya berada di 3 kabupaten sekaligus kabupaten Bandung,Sumedang dan Garut. Jadi kita dapat melakukan perjalanan dari Bandung-Garut-Sumedang hanya dalam waktu kurang dari 1 menit. Banyak flora dan fauna hidup di kawasan ini. Di kawasan Kareumbi ini ada sebuah program menarik yaitu wali pohon. Wali pohon? Apa itu? Mungkin itu adalah pertanyaan yang pertama kali keluar dari pikiranku. Jadi, wali pohon adalah sebuah program menanam pohon dengan membayar 75 ribu rupiah per pohon dan pohon yang ditanam diberi nama kita yang menanamnya. Selain itu kita juga mendapatkan sertifikat dari pohon tersebut. Perawatan dari pohon dilakukan selama 5 tahun oleh pihak Kareumbi dan jika pohon mati maka akan diganti dengan yang baru. Di Karembi ini kita juga dapat membuat sebuah hutan dengan melakukan penanaman sebanyak 6000 pohon dan hutan tersebut akan diberi nama penanamnya. Hmm... kalau ITB punya hutan di sini sepertinya lumayan juga. Dengan jumlah mahasiswa yang tiap angkatannya berjumlah 3000 anak tampaknya hal tersebut mungkin terjadi.

Di Kareumbi kami juga mengunjungi tempat konservasi rusa. Selain rusa terdapat berbagai satwa hidup di kawasan ini dan kebetulan kami kemarin sempat melihat elang jawa dalam perjalanan kami di hutan menuju Cigumentong sebuah pemukiman yang berada di tengah hutan Kareumbi. Di dekat Cigumentong terdapat pembangkit listrik mikrohidro yang dapat menghasilkan listrik sebesar 3000 watt yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik dari Cigumentong. Sebenarnya di daerah ini terdapat 3 pembangkit mikrohidro namun pembangkit mikrohidro yang kami kunjungi merupakan yang terbesar dibandingkan 2 pembangkit yang lain yang menghasilkan listrik sebesar 1000 watt. Mikrohidro ini dibuat atas kerjasama dengan AHB (Asosiasi Hidro Bandung). Sebelum menggunakan pembangkit mikrohidro ini Cigumentong telah menggunakan panel surya sebagai sumber listrik. Terdapat masing-masing 1 panel surya di tiap rumah warga yang  menghasilkan listrik sebesar 4 watt untuk tiap panel. Selain itu terdapat 2 panel surya yang menghasilkan listrik sebesar 60 watt yang digunakan untuk seluruh desa. Wow, desa yang cukup unik dan modern. Untuk biaya perawatan diserahkan kepada penduduk Cigumentong dengan melakukan iuran sebesar 5000/rumah.

Setelah cukup beristirahat di Cigumentong kami kembali berjalan menuju rawa babi yang biasanya digunakan sebagai tempat pengamatan. Setelah cukup melihat rawa babi kami kemudian melanjutkan perjalanan kami manuju tempat semula. Di jalan kami sempat melihat binatang sejenis tupai yang biasa disebut dengan nama Jalalang. Beberapa meter berjalan kami melihat sebuah bangunan tua yang sudah rusak dan ditumbuhi ilalang yang dahulu merupakan rumah sakit rusa yang didirikan pada tahun 1992 namun karena sudah tidak dipakai maka bangunan tersebut mulai dijarah oleh orang-orang yang kurang bertanggung jawab. Namun terdapat rencana untuk kembali mengaktifkan rumah sakit rusa tersebut. Akhirnya kami tiba di lokasi awal kami datang pada pukul 15.00 dan sembari menunggu jemputan angkot datang aku menyempatkan diri untuk menikmati segelas kopi panas beserta 5 orang kakak kelasku. Akhirnya ankot jemputan kami datang dan kami akhirnya harus berpamitan pada Kareumbi untuk kembali ke Bandung. Kami kembali menuju Bandung menggunakan kereta yang juga kami pakai ketika berangkat dan sekitar pukul 18.00 kami sudah sampai kembali di Bandung dengan membawa banyak pengalaman yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya.

Belajar tak selamanya harus di kelas namun kita dapat belajar di luar kelas bersama alam yang dapat membuka pikiran kita mengenai lingkungan sekitar kita karena tak selamanya apa yang kita dapat di luar kelas bisa kita dapatkan di kelas. Dan satu hal yang pasti, belajar di luar kelas itu sangat menyenangkan. :D

Selasa, 20 September 2011

Tugas Wawancara Dosen dan Karyawan

Pada tugas wawancara kali ini saya mewawancarai bapak Dr. Ir. Iwan Irawan Wiratmaja atau dapat dipanggil bapak Iwan. Saya melakukan wawancara ini pada tanggal 15 September 2011. Bapak Iwan merupakan seorang yang sangat ramah dan sangat enak untuk diajak ngomong dengan santai. Bapak Iwan merupakan salah satu dosen TI yang bekerja di lab sistem produksi sejak tahun 1995. Bapak Iwan sendiri telah mulai bekerja dari tahun 1984 dan beliau merupakan lulusan ITB tahun 1984. Pada tahun 2005 beliau juga pernah bekerja di direktorat. Beliau mengajar materi S1 psikologi industri, manajemen industri, TA1, dan OPI. Sedangkan materi S2 belia mengajarkan IKM, manajemen teknologi, dan pengembangan oraganisasi.

Tentang pendapat bapak Iwan terhadap mahasiswa sekarang adalah bahwa mahasiswa sekarang semakin manja dalam segala hal, kemudian behaviour yang makin cuek dan cenderung egois, kurang menghargai orang lain. Namun beliau juga merasakan bahwa pola pikir dari para mahasiswa semakin meningkat.

Beliau memiliki harapan untuk para mahasiswa yaitu agar para mahasiswa memperbanyak dan memperbaiki interaksi dengan dosen, bapak Iwan juga berharap agar para mahasiswa dapat berorganisasi, serta agar para mahasiswa dapat memperbaiki nilai-nilai yang ada seperti sopan santun terhadap orang lain.