Minggu, 02 Desember 2012

Pelajaran Tentang Hidup

Berawal dari suatu pagi pada hari Sabtu, 1 Desember 2012. Bulan baru dan semoga banyak pelajaran baru bulan ini. Pagi itu aku terbangun dan kulihat jam di handphoneku yang menunjukan pukul 7.45 dan tentu saja cukup panik juga karena pada jam 8.00 aku sudah ada janji bertemu dengan mentorku. Akhirnya aku bergegas mandi, kukenakan satu-satunya baju koko yang kumiliki, dan kukayuh sepedaku dengan kecepatan maksimum menuju Salman. Setibanya di Salman kulihat jam di handphoneku dan ternyata waktu telah menunjukan pukul 8.45. Telat 45 menit. Nasi sudah menjadi bubur yang berlalu tak bisa kembali maka aku ambil saja pelajaran dari kejadian ini. Keputusan untuk tidur setelah sholat Subuh ternyata berdampak negatif.

Aku lanjutkan langkahku menuju koridor selatan Masjid Salman tempat aku dan mentorku janjian untuk bertemu. Aku cari mentorku dan kudapatkan dia sedang membaca buku sendiri di sudut koridor selatan Salman. Aku kemudian datang dan menyapanya. Setelah kutanya berapa orang yang akan hadir mentoring pada hari itu kudapatkan jawaban yang cukup mengejutkan. Ternyata aku satu-satunya yang bisa hadir pada mentoring hari itu. Maka dengan datangnya aku dimulailah kegiatan mentoring pada hari itu dengan bertilawah beberapa ayat terlebih dahulu. Setelah selesai tilawah mentorku menceritakan tentang pengalamannya berdiskusi tentang agama dengan orang lain. Di sini ia menekankan bahwa diskusi semacam itu dapat mengukur seberapa dalam pengetahuan dan iman kita tentang Islam. Sudah sampai sejauh mana kita membaca mengenai ajaran-ajaran dan sejarah Rasulullah Muhammad SAW. Selain itu pada hari itu aku diajarkan tentang bagaiman seharusnya kita untuk hidup.

Pada dasarnya manusia akan lebih mudah melakukan suatu perbuatan jika sudah biasa melakukan perbuatan tersebut. Tidak terkecuali perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Jika kita membiasakan untuk berbuat baik menjalankan segala perintah Allah SWT maka akan terasa lebih mudah untuk melakukannya sebaliknya jika kita membiasakan untuk berbuat jahat atau buruk maka kita akan lebih mudah untuk melakukan perbuatan buruk tersebut dalam hidup kita.

Setelah cukup lama kami berbingcang maka waktu menunjukan sekitar pukul 10.00 dan kami sudahi mentoring pada hari itu dengan berdoa. Setelah mentoring selesai kuambil sepedaku dan kuputuskan untuk mencari sarapan pagi yang sempat tertunda pada pagi itu. Sungguh banyak pelajaran yang sangat berharga aku dapatkan pada hari itu dan mungkin suatu pertanyaan penutup untuk inspirasi pada hari itu adalah : "Perbuatan apa yang akan anda biasakan untuk dilakukan? Baik buruk tergantung anda dan setiap pilihan pasti ada konsekuensinya masing-masing."

Senin, 20 Agustus 2012

Cinta Allah di Balik Penyakit


Sebagai seorang manusia biasa suatu hal yang biasa jika kita pernah merasakan sakit. Kita merasakan bahwa ketika tubuh kita sakit timbul rasa tidak nyaman di dalam diri kita. Namun, ketika kita mencoba melihat sisi positif dari segala hal termasuk ketika kita sedang sakit maka sesungguhnya ada skenario indah yang telah direncanakan oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang hamba yang beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yang terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat dan pada saat waktu senangnya.”
Ujaran Rasulullah SAW tersebut diriwayatkan oleh Abu Imamah al Bahili.

Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda :
“Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya.”
Allah memerintahkan :
  1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
  2. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya
  3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.
  4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.

Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba.
Namun untuk malaikat ke 4, Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba mukmin.
Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata : “Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan?”
Allah menjawab: “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.”

Jadi.... Alangkah indahnya jika kita dapat mengurangi keluh kesah kita ketika kita sakit karena sesungguhnya hal tersebut merupakan wujud kasih sayang Allah SWT kepada umatnya. :D

Jumat, 27 Juli 2012

Menjelajah Tepian Cikapundung

Mungkin sudah banyak orang tahu jika air merupakan salah satu sumber kehidupan. Hal itu telah dapat kita lihat dalam peradaban-peradaban kuno yang berkembang pesat di daerah tepian sungai. Kita dapat lihat bagaimana peradaban yang berkembang dengan sangat pesat di tepian sungai Nil. Bisa kita anggap bahwa kondisi di atas merupakan sebuah kondisi ideal bagaimana seharusnya sebuah sungai itu hidup. Sekarang mari kita sama-sama melihat kondisi sungai di indonesia. Ideal? Tentu saja masih jauh dari kata ideal.

Dapat kita ambil contoh terdekat dari kita sebuah sungai yang namanya tidak asing lagi bagi penduduk Bandung, sebuah sungai yang memiliki sebuah ikatan erat dengan masyarakat di tepiannya, Sungai Cikapundung. Kesempatan untuk menjelajah tepian sungai Cikapundung aku dapatkan pada hari Sabtu lalu tepatnya pada tanggal 21 Juli 2012. Meskipun hanya menjelajah dari daerah Siliwangi hingga sekitar lembah Sangkuriang aku dapat melihat beberapa hal yang menarik dan mungkin sedikit menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru. Air memang merupakan sebuah sumber kehidupan dan hal itu dapat aku lihat ketika aku menjelajah dan melihat bagaimana masyarakat pinggiran sungai hidup dengan mengandalkan air sungai Cikapundung. Sebagai tempat memancing, mandi, mencuci, serta mengairi lahan lahan yang ditanami di sepanjang sungai Cikapundung. Namun seperti yang kita semua ketahui kadar polutan dari sungai Cikapundung sudah dapat dibilang memprihatinkan. Kita dapat melihat sampah-sampah di sepanjang sungai Cikapundung dan jangan lupa limbah kotoran sapi yang jumlahnya cukup banyak hasil kiriman dari daerah Lembang.

Dengan kondisi seperti itu apakah layak jika kita menyebut bahwa sungai Cikapundung merupakan sumber kehidupan? Bukankah itu akan menjadi sebuah sumber penyakit? Bagimana kondisi ikan-ikan yang ditangkap dari sungai Cikapundung? Bagaimana kondisi tanaman yang berada di daerah tepian sungai Cikapundung? Tergambar dalam pikiranku beberapa ratus tahun yang lalu kondisi sungai Cikapundung tidak seperti ini, mungkin kondisi sungai Cikapundung ini masih sangat indah sama seperti indahnya kota Bandung ketika jaman dahulu. Namun mengapa kondisi tersebut dapat berubah dan dalam beberapa waktu dekat ini perubahan yang ada cukup besar. Hal tersebut terjadi karena masih banyak pola pikir dari manusia bahwa segala yang ada di dunia ini memang diciptakan untuk manusia dan manusia berada di puncak rantai makanan yang akan membuat manusia akan melakukan hal-hal sesuai apa yang mereka inginkan tanpa memikirkan dampak bagi kehidupan sekitarnya. Bukankah keseimbangan itu indah? Bukankah kehidupan itu indah ketika kita dapat hidup bersama-sama dengan alam? Mengapa harus ada perusakan ketika kita bisa menciptakan suatu ketenangan dari sebuah keseimbangan?

Dalam penjelajahan tepian Cikapundung kali ini aku mendapatkan sebuah hiburan di penghujung penjelajahan yaitu di daerah lembah Sangkuriang. Di sini aku dapat melihat sisa sisa alam yang masih terjaga. Masih banyak tanaman dan hewan-hewan yang masih dapat hidup di sini. Namun sampai kapan sisa tersebut akan terjaga mungkin hanya kita yang dapat menentukan dan melihat kondisi sungai Cikapundung yang telah kita ketahui bersama maka apakah sungai tetap menjadi sumber kehidupan? Kapan kita akan mulai berubah? Jawabannya ada di dalam diri kita masing-masing.