Kamis, 20 Maret 2014

Masih Nyamankah Jogjaku?

Berhati Nyaman, sebuah semboyan yang melekat pada kotaku tercinta Yogyakarta atau biasa disebut Jogja. Sebagai seorang anak yang lahir dan besar di Jogja aku sudah cukup banyak melewati berbagai momen di Jogja. Berbagai macam cerita telah banyak mengisi hidupku terkait dengan kota Jogjaku ini. Dapat dibilang bahwa kota Jogja merupakan salah satu kota yang sangat aku cintai, sebuah kota yang sangat nyaman untuk ditinggali dan masih kental akan budaya di kehidupan sehari-harinya.

Banyak cerita aku alami di kota Jogja. Cerita bahagia mengenai indahnya saat-saat bersama keluarga dan beragam rasa unik yang dialami ketika menjalani pendidikan mulai dari SD hingga akhirnya SMA (untuk TK saya lupa bagaimana rasanya hehe). Tidak hanya manisnya pengalaman di kota ini yang aku rasakan tetapi juga rasa pahitnya aku rasakan, saat kota ini diderita bencana gempa dahulu selain itu di kota ini pula aku merasakan sedihnya ditinggalkan oleh salah seorang teman. Manis pahit beragam rasa tapi itulah bagian dari hidupku, hidupku di kota Jogja.

Pada dasarnya segala hal di dunia ini akan memiliki  kecenderungan untuk berubah. Lalu bagaimanakah dengan kota Jogjaku? Apakah Jogja tidak berubah dan begitu-begitu saja? Aku rasa Jogja juga mengalami banyak perubahan hanya saja saat aku lahir hingga aku SMA aku tidak begitu merasakannya karena aku selalu hidup berdampingan dengan perubahan tersebut, perubahan yang ternyata sangat nyata. Terkadang kita memang melupakan hal yang begitu dekat dengan kita, unik ya.:)

16 Juli 2010
Sebuah peristiwa yang menjadi awal dan kelak akan banyak mengubah cara pandang seorang Wiku Larutama terhadap kota Jogja, pengunguman SNMPTN dan tertera tulisan Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung. Peristiwa inilah yang menjadi awal bagiku untuk melakukan perantauan yang tidak terlalu jauh sebenarnya tapi merupakan yang pertama bagiku, menyongsong Bandung sang kota kembang. Beberapa bulan awal masih banyak lah rasa kangen ke kota Jogja maklum anak baru dan sejuurnya aku belum pernah sama sekali menginjakan kaki di Bandung sejak aku TK. Kata orang tuaku sih dulu pernah ke Bandung waktu bayi tapi ya mana aku ingat bagaimana rasanya. Jogja bagiku memang sebuah kota begitu nyaman dan sulit untuk dilupakan tapi perlahan aku mulai menemukan suatu hal bahwa "Aku mulai jatuh cinta, pada Bandung."

Rasa cinta yang mulai tumbuh dan menguat terhadap Bandung membuatku mulai mau untuk memperluas pandanganku tentang Jogja bahwa Jogja tidak selalu indah dan Jogja juga mengalami banyak perubahan. Dalam beberapa kesempatan saat aku pulang ke Jogja perubahan cara pandang itu cukup terbukti, perubahan-perubahan yang dulu tidak dapat aku lihat kini mulai dapat aku lihat saat aku berjalan (dengan sesekali naik angkutan umum pastinya :D) berkeliling Jogja. Mulai banyak bangunan-bangunan tinggi berupa hotel dan mall dibangun dan mulai terjadi kemacetan di beberapa ruas jalan kota Jogja. Wah ternyata Jogja memang banyak mengalami perubahan. Dengan adanya perubahan-perubahan itu mulai muncul rasa khawatir di dalam pikiranku, akankah perubahan ini akan menghilangkan kenyamanan kota ini? Kota ini mulai terlihat menyerupai Bandung dan Jakarta dengan berbagai macam permasalahannya, diawali dengan banyaknya mall dan hotel serta mulai terjadinya mecet di lokasi yang sebelumnya jarang terjadi macet. Rasa cintaku terhadap Jogja masih dalam dan aku masih percaya bahwa kota ini tidak akan kehilangan jati diri, percaya bahwa kota ini akan tetap menjadi kota Jogja yang aku kenal.


Jadi, masih nyamankah Jogjaku? Aku tidak tahu tetapi aku pecaya bahwa Jogja akan tetap menjadi Jogja yang aku kenal

Senin, 27 Januari 2014

Alam Dan Budaya Yang Saling Menjaga

Beberapa hari yang lalu lebih tepatnya pada tanggal 24-26 Januari 2014 aku bersyukur dapat mengunjungi kembali pulau Bali untuk ke sekian kalinya yang terakhir aku kunjungi sekitar 7 tahun yang lalu. Namun terdapat hal yang berbeda dalam kunjungan kali ini. Mungkin dalam beberapa kesempatan kunjungan sebelumnya yang aku cari hanyalah sarana bermain saja suatu hal yang dapat dimaklumi mengingat pada waktu itu aku masih duduk di bangku SMP.
Aku rasa aku sudah cukup bosan dan merasa sayang untuk hanya sekedar menikmati wahana-wahan bermain jika berkunjung ke pulau dewata. Aku ingin sesuatu yang lebih... Lalu, apakah sebenarnya tujuan utama yang aku cari di Bali? Tujuan pertama adalah budaya dan yang kedua adalam alamnya.

Menuju tujuan pertama : Budaya
Di beberapa daerah elemen budaya telah menjadi sesuatu yang sangat melekat ke dalam kehidupan masyarakatnya. Salah satu contoh yang dapat aku ambil adalah tanah kelahiranku tercinta Yogyakarta. Dalam kehidupan bermasyarakat banyak sekali filosofi-filosofi (bukan hanya sekedar ritual) Jawa tentang kehidupan diterapkan. Hal itu benar-benar menarik rasa penasaranku untuk mengetahui seperti apakah budaya yang ada di Bali yang sangat terkenal di mata dunia sebagai tempat wisata yang luar biasa indah.
Jika dilihat sekilas Bali merupakan sebuah pulau yang kental akan nilai-nilai budaya. Mengapa seperti itu? Salah satu yang paling mencolok adalah adanya pura hampir di semua daerah di Bali selain itu banyaknya orang yang berpakaian adat dan sesaji yang tersebar di beberapa tempat menjadi hal pembeda yang dimiliki oleh Bali.
Secara lebih detil lagi terdapat beberapa budaya yang tertanam secara mengagumkan di Bali. Contoh simpelnya adalah di Bali tidak diperbolehkan untuk mendirikan gedung yang sangat tinggi dikarenakan adat yang melarangnya. Selain itu tidak jarang terdapat patung yang terdapat di tengah-tengah jalan yang meskipun terkadang menyebabkan macet tetap bersikukuh dipertahankan posisinya.
Satu lagi hal yang cukup menarik perhatianku adalah konsep hidup yang ada di Bali bahwa manusia itu hidup sinergis dengan alam. Pulau Bali dapat dibilang masih cukup lestari kondisi alamnya meskipun sudah sangat terkenal sebagai kota wisata dan akan memunculkan tekanan dari para investor untuk berlomba-lomba membangun fasilitas-fasilitas bangunan beton yang menggantikan hutan-hutan Bali. Salah satu contohnya adalah masih dipertahankannya hutan bakau yang berada di sekitar jalan tol Bali.

Berlanjut ke tujuan kedua : Alam
Sebagai pulau kecil yang dapat dikelilingi dalam 1 hari saja Bali memiliki keindahan alam yang sangat lengkap. Mulai dari kawasan pesisir hingga kawasan pegunungan memancarkan keindahannya masing-masing. Dalam perjalanan kali ini aku sangat bersyukur karena diberikan kesempatan untuk mengunjungi salah satu pantai yang ada di Bali yaitu pantai Pandawa. Pantai yang menurutku merupakan salah satu pantai terindah yang pernah aku lihat langsung (bisa dibilang jauh lebih indah dari pantai Kuta). Kombinasi yang sangat indah diperlihatkan antara laut yang sangat biru, pantai pasir putih yang bersih, tebing yang sangat megah, dan disertai dengan suara deburan ombak yang menghantam tebing di beberapa sisi. Selain itu masih terdapat beberapa hutan yang masih sangat rimbun yang terus menemani perjalanan berangakat ataupun pulang. Keindahan itu dilengkapi dengan adanya 2 buah gunung berapi yang berdiri kokoh yaitu gunung Agung dengan keagungannya serta gunung Batur dengan keindahan alam sekitarnya. Benar-benar sebuah alam yang sangat indah di tengah-tengah ramainya aktivitas turis domestik ataupun mancanegara dari berbagai penjuru belahan dunia. 

Perjalanan di Bali ini benar-benar memperlihatkan kepadaku bahwa alam dan budaya merupakan 2 buah elemen yang saling terkait satu sama lain. Sebuah hubungan yang sangat harmonis yang terus menjaga keseimbangan alamnya. Sebuah wujud nyata bahwa jika masyarakat menjaga budaya yang ada di daerah tersebut budaya akan menjaga alam tempat budaya itu berada karena sesungguhnya budaya tidak hanya berbicara tentang ritual tetapi budaya juga berbicara hal-hal yang lebih esensial yaitu filosofi bagaimana seharusnya manusia itu hidup bersama alam.

Selasa, 03 Desember 2013

Manusia dan Lingkungan

Berbicara tentang lingkungan tidak dapat dilepaskan dari aspek manusia yang terlibat dan saling berinteraksi memengaruhi satu dengan yang lainnya. Banyak orang bertanya “Sebenernya buat apa sih kita menjaga lingkungan?”. Jawabannya sih bisa bermacam-macam dari yang mulai cuma sekedar ikut-ikutan trend, ingin mengabdi kepada bumi, menjalankan perintah saja dari organisasi ataupun secara individu. Tapi menurutku terdapat beberapa hal dasar yang menjadi alasan mengapa sih kita harus menjaga lingkungan.

Pertama adalah hakikat diriku yang hidup sebagai seorang muslim. Dari mentor, orang tua, dan guruku selama ini aku benar-benar diajarkan bahwa pada dasarnya manusia itu adalah khalifah di muka bumi. Khalifah seperti apa ya menjadi orang yang menjaga kelangsungan hidup manusia dan sekitarnya.

Kedua adalah naluri dasarku sebagai manusia. Naluri dasar yang seperti apa sih? Naluri dasar yang dimaksud di sini adalah naluri dasar manusia untuk mempertahankan hidupnya. Jadi ya manusia selama ini menjaga lingkungan ya bukan untuk siapa-siapa selain diri mereka sendiri. Kenapa seperti itu? Ya tentu saja, selama ini manusia hidup di bumi dan ketika bumi rusak di mana manusia akan hidup?
Mau hidup di Mars? Bisa jadi.. :D


Jadii,,, apasih alasan seorang Wiku menjaga lingkungan sekitarnya? Yang pertama ya karena aku muslim dan yang kedua ya karena aku manusia. Sesimpel itu aja sih sebenernya. :)